Ilustrasi kondisi sampah di bantar gebang bekasi.
Jakarta, Batas.id — Pemerintah terus mempercepat pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai upaya meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat. Program ini menjadi salah satu strategi utama dalam mengatasi persoalan sampah yang kian meningkat di berbagai daerah.
Saat ini, volume sampah nasional diperkirakan mencapai sekitar 140 ribu ton per hari. Di sisi lain, kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) masih terbatas, begitu pula dengan efektivitas pengelolaan berbasis reduce, reuse, recycle (3R) yang belum optimal.
Melalui penerapan teknologi termal seperti insinerasi, PSEL diharapkan mampu mengurangi volume sampah secara signifikan sekaligus menghasilkan energi listrik. Fokus pembangunan diarahkan pada kawasan perkotaan dengan produksi sampah lebih dari 1.000 ton per hari.
Kepala Staf Kepresidenan, Muhammad Qodari, menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan pengurangan sampah hingga 33.000 ton per hari pada 2029, atau sekitar 22,48 persen dari total timbulan sampah nasional.
Pengurangan volume sampah ini dinilai dapat berdampak langsung pada peningkatan kesehatan masyarakat, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar TPA, dengan menurunnya potensi penyakit akibat lingkungan yang tidak sehat.
Selain manfaat lingkungan, keberadaan PSEL juga diharapkan mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah serta memperkuat peran pemerintah daerah dalam mendukung ekonomi sirkular dan pembangunan rendah karbon.
Dari sisi energi, setiap fasilitas PSEL dengan kapasitas pengolahan 1.000 ton sampah per hari diproyeksikan mampu menghasilkan listrik rata-rata sebesar 25 megawatt (MW).
Program ini juga berpotensi memberikan dampak ekonomi, termasuk peningkatan investasi, penciptaan lapangan kerja, serta mendorong transfer teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor pengelolaan sampah.
Pemerintah menargetkan pembangunan PSEL di 30 lokasi atau aglomerasi yang mencakup 61 kabupaten/kota di Indonesia, dengan total kapasitas pengolahan mencapai 33.000 ton per hari.
Sebagai tahap awal, proyek PSEL dijadwalkan mulai dibangun (groundbreaking) pada Juni 2026 di lima wilayah, yakni Kota Bekasi, Kota Yogyakarta, Bogor Raya, Denpasar Raya, dan Bandung Raya.
