19/05/2026
Benwit

Rektor ITS Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng Phd dalam konferensi pers dan uji coba Benwit hasil inovasi tim peneliti ITS

Surabaya – Peneliti dari Departemen Teknik Material dan Metalurgi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil menghadirkan inovasi bahan bakar minyak (BBM) alternatif bernama “Benwit”, yaitu bensin yang diproduksi dari minyak kelapa sawit. Inovasi ini hadir sebagai jawaban atas tantangan krisis energi global sekaligus mendukung pengembangan energi rendah emisi di Indonesia.

Pengembangan Benwit sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong transisi dari energi fosil menuju energi baru terbarukan (EBT). Langkah tersebut mencakup peningkatan pemanfaatan bioenergi, penguatan bauran energi bersih, serta upaya mencapai kemandirian energi nasional.

Rektor ITS, Prof. Bambang Pramujati, menyatakan bahwa inovasi ini menjadi peluang strategis untuk memperkuat sumber energi alternatif, terutama di tengah ketidakpastian pasokan energi global akibat dinamika geopolitik, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah.

Tim Peneliti Benwit dari ITS saat melakukan presentasi proses produksi bensin berbahan baku minyak sawit dalam konferensi pers di Gedung Research Center ITS

Sementara itu, Hosta Ardhyananta selaku peneliti utama menjelaskan bahwa Benwit dikembangkan melalui metode catalytic cracking. Proses ini bertujuan memecah molekul minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) menjadi bahan bakar siap pakai berupa biogasoline.

Dalam prosesnya, tim menggunakan katalis berbasis alumina (γ-Al₂O₃) yang berfungsi sebagai pemecah molekul trigliserida menjadi hidrokarbon dengan rantai lebih ringan. Hasil konversi awal mampu menghasilkan biogasoline sekitar 60 persen, meskipun membutuhkan suhu tinggi hingga 420 derajat Celsius.

Namun, melalui pengembangan lanjutan, efisiensi proses berhasil ditingkatkan. Suhu operasi dapat diturunkan menjadi sekitar 380 derajat Celsius, sementara hasil konversi meningkat hingga mencapai 83 persen. Produk yang dihasilkan didominasi oleh hidrokarbon rantai pendek pada rentang C5 hingga C11, yang merupakan komponen utama dalam bensin komersial.

Proses uji coba implementasi Benwit dengan percobaan pencampuran BBM pada sepeda motor konvensional

Keunggulan lain dari Benwit adalah penerapan prinsip zero emission. Residu cair yang dihasilkan tidak menjadi limbah, melainkan dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar alternatif, misalnya untuk kompor, karena karakteristiknya yang menyerupai minyak.

Saat ini, teknologi Benwit telah mulai diterapkan pada mesin pertanian. Implementasi ini bertujuan untuk membantu petani mengurangi ketergantungan terhadap BBM berbasis fosil yang harganya cenderung fluktuatif.

Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat ITS, Fadlilatul Taufany, menyampaikan bahwa pihaknya akan segera menjalin koordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) agar inovasi ini dapat dikembangkan dalam skala nasional.

Dengan potensi yang dimiliki, Benwit diharapkan menjadi salah satu solusi energi masa depan yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mampu mendukung ketahanan energi Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *