17/04/2026
Sekolah Rakyat

Daifulloh Afif (19), siswa asal Bekasi yang akrab disapa Dai. Ia kini kembali melanjutkan pendidikan di kelas 1 SRMA 13 Bekasi, meski usianya lebih tua dibandingkan teman-teman sekelasnya

Bekasi, Batas.id — Jalan hidup Daifulloh Afif (19), atau yang akrab disapa Dai, tidak selalu mulus. Sempat terhenti di tengah jalan, kini ia kembali menata masa depannya lewat bangku sekolah.

Dai saat ini tercatat sebagai siswa kelas 1 di SRMA 13 Bekasi. Meski usianya lebih matang dibandingkan teman-temannya, hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk kembali belajar setelah sempat putus sekolah selama dua tahun.

Ia mengisahkan bahwa dulu hanya sempat mengenyam pendidikan SMA selama beberapa bulan. Kondisi ekonomi keluarga menjadi alasan utama ia harus berhenti sekolah lebih awal.

Untuk membantu meringankan beban orang tua yang berjualan dengan gerobak, Dai memilih bekerja sejak usia 16 tahun. Ia pernah berjualan tahu bulat, bekerja di bengkel, hingga menjadi kurir belanja daring dan jasa ekspedisi.

Namun di tengah kesibukan mencari nafkah, keinginan untuk kembali bersekolah tidak pernah benar-benar hilang. Ia menyimpan harapan untuk melanjutkan pendidikan, terutama karena minatnya pada dunia pemrograman.

Kesempatan itu akhirnya datang ketika ia mengetahui adanya sekolah berasrama yang membuka akses bagi mereka yang pernah putus sekolah. Tanpa harus memikirkan biaya, Dai pun memutuskan untuk kembali belajar.

Kini, kehidupannya perlahan berubah. Ia mulai terbiasa dengan rutinitas baru sebagai pelajar, termasuk bangun pagi dan menjalani kegiatan belajar secara teratur—sesuatu yang sebelumnya sulit ia lakukan saat masih bekerja hingga larut malam.

Selain belajar di kelas, Dai juga mengikuti kegiatan kewirausahaan. Salah satunya adalah budidaya tanaman sayuran yang dikelola langsung oleh para siswa. Hasilnya kemudian dijual, memberikan pengalaman nyata dalam berbisnis.

Pengalaman masa lalunya sebagai penjual justru menjadi bekal berharga. Dai kini memiliki cita-cita untuk menjadi seorang pengusaha di masa depan.

Baginya, kesempatan untuk kembali sekolah bukan hanya soal pendidikan, tetapi juga tentang menemukan kembali harapan yang sempat terhenti.

Kisah Dai mencerminkan bahwa kesempatan kedua bisa menjadi titik balik, terutama bagi mereka yang pernah terhambat keadaan namun tetap menyimpan keinginan untuk maju.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *