15/05/2026
Pernyataan sikap sman 1 pontianak

Melalui pernyataan resminya, SMA Negeri 1 Pontianak menolak untuk ikut final LCC 4 Pilar MPR RI yang akan diulang tersebut. “SMAN 1 Pontianak menyatakan tidak akan terlibat dalam pelaksanaan lomba LCC yang diulang, sebagaimana informasi yang disampaikan oleh MPR RI,” tulis keterangan di unggahan akun Instagram @smansaptk_infirmasi pada Kamis, 14 Mei 2026.

Pontianak, Batas.id – Sikap tegas dan berjiwa besar ditunjukkan oleh keluarga besar SMA Negeri 1 (SMAN 1) Pontianak. Pihak sekolah secara resmi menyatakan tidak akan mengikuti babak final ulang Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat. Keputusan ini diambil demi menjaga kondusivitas, integritas, dan sportivitas antar-pelajar di wilayah tersebut.

Kepala SMAN 1 Pontianak, Indang Maryati, menyampaikan keputusan tersebut dalam konferensi pers resmi pada Kamis, 14 Mei 2026. Langkah ini menjadi jawaban atas dinamika yang berkembang setelah babak final LCC tingkat provinsi memicu polemik luas di media sosial terkait objektivitas penilaian juri.

Fokus pada Klarifikasi, Bukan Kemenangan

Indang Maryati menegaskan bahwa video protes yang sempat beredar di media sosial murni merupakan permohonan klarifikasi. Siswa dan guru pendamping merasa ada ketidaksesuaian dalam pemberian poin pada babak final. Pihak sekolah menggarisbawahi bahwa tuntutan mereka sejak awal adalah transparansi akademik, bukan ambisi untuk merebut gelar juara atau merusak reputasi lembaga MPR RI selaku penyelenggara.

“Kami hanya ingin meluruskan objektivitas penilaian demi pembelajaran anak-anak kami. Kami tidak pernah meminta untuk mengubah hasil juara, apalagi membatalkan kemenangan sekolah lain,” ujar Indang.

Dukungan Penuh untuk SMAN 1 Sambas

Alih-alih mengambil kesempatan tanding ulang yang ditawarkan pusat, SMAN 1 Pontianak memilih berlapang dada. Mereka menyatakan tetap menghormati hasil lomba yang menetapkan SMAN 1 Sambas sebagai Juara 1. Pihak sekolah juga memberikan dukungan penuh kepada SMAN 1 Sambas untuk mewakili Provinsi Kalimantan Barat di tingkat nasional. Menurut mereka, persaudaraan antar-siswa di Kalimantan Barat jauh lebih berharga daripada sebuah piala.

Sebelumnya, polemik ini sempat menarik perhatian Ketua MPR RI, Ahmad Muzani. Merespons protes massal dari netizen dan pengamat pendidikan, Ahmad Muzani sempat menginstruksikan untuk menggelar babak final ulang dengan melibatkan juri independen guna menjamin keadilan.

Namun, dengan penolakan resmi dari SMAN 1 Pontianak, rencana final ulang tersebut dipastikan batal. Sikap ksatria yang ditunjukkan oleh SMAN 1 Pontianak ini menuai banyak pujian dari masyarakat. Mereka dinilai berhasil memberikan pelajaran moral yang sesungguhnya tentang esensi dari nilai-nilai 4 Pilar Kebangsaan, yaitu gotong royong, persatuan, dan keadilan sosial, yang dipraktikkan langsung dalam kehidupan nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *