18/04/2026
Pemprov DKI Bakal Intensifkan Pengerukan Sungai dan Pengendalian Ikan Sapu-Sapu

<p>Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan mengintensifkan pengerukan sedimen dan pembersihan aliran sungai secara serentak di lima wilayah kota administrasi Jakarta pada Jumat mendatang.</p>

Ada Apa Dengan Ikan Sapu-Sapu? Kenapa Begitu Masif Ingin Dimusnahkan

Beberapa minggu terakhir, ramai diberitakan bahwa pemerintah kota melakukan penangkapan dan pemusnahan ikan sapu-sapu di sepanjang sungai di Jakarta. Ikan ini ditangkap menggunakan jaring oleh petugas PPSU di sejumlah wilayah. Menurut Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, sebanyak 68.880 ekor atau sekitar 6,98 ton ikan telah ditangkap dan dimusnahkan dengan cara dikubur. Kegiatan ini melibatkan 640 personel dan diklaim bertujuan menjaga keseimbangan ekosistem perairan Jakarta dari dominasi spesies tersebut.

Ikan sapu-sapu (kelompok pleco atau Pterygoplichthys) awalnya dikenal sebagai ikan pembersih akuarium. Namun, di Indonesia, spesies ini justru menjadi salah satu ikan invasif paling bermasalah di perairan tawar. Dalam beberapa tahun terakhir, muncul dorongan kuat untuk “memusnahkan” atau setidaknya mengendalikan populasinya karena dampaknya yang luas terhadap lingkungan, ekonomi, hingga kesehatan.

Di perairan sungai Indonesia, khususnya kawasan perkotaan seperti Jakarta, keberadaan ikan ini menjadi perhatian serius karena statusnya sebagai spesies invasif yang berpotensi mengancam keseimbangan ekosistem lokal. Ikan sapu-sapu bukanlah spesies asli Indonesia. Ikan ini berasal dari Amerika Selatan (Amazon) dan masuk melalui perdagangan ikan hias yang kemudian dilepas ke perairan umum.

Sejumlah petugas PPSU melakukan penangkapan dan pemusnahan ikan sapu-sapu

Dampak pada Ekosistem

Reproduksi dan adaptasi ikan ini sangat tinggi. Ikan sapu-sapu berkembang biak dengan cepat dan mampu bertahan hidup di perairan tercemar. Bahkan, di sungai seperti Ciliwung, populasinya dilaporkan meningkat drastis dalam kurun waktu belasan tahun. Ketahanannya terhadap lingkungan tercemar justru membuatnya mendominasi saat spesies lain tidak mampu bertahan.

Minimnya predator alami memperparah kondisi ini. Di perairan seperti Ciliwung Jakarta, hampir tidak ada hewan yang memangsa ikan sapu-sapu. Struktur tubuhnya yang keras dan berduri membuatnya sulit dimakan, sehingga populasinya tumbuh tanpa kontrol alami.

Ancaman terhadap ikan lokal juga sangat nyata. Ikan ini memakan telur dan larva ikan lain, sehingga menghambat regenerasi spesies asli. Selain itu, ikan sapu-sapu mendominasi ruang dan rantai makanan, menciptakan kompetisi langsung yang tidak seimbang. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan kepunahan lokal spesies tertentu.

Kerusakan habitat sungai juga menjadi dampak serius. Ikan ini memiliki kebiasaan menggali lubang di tepi sungai yang dapat merusak struktur tanah, mempercepat erosi, serta melemahkan tanggul. Dampak ini tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga berpotensi menimbulkan kerusakan infrastruktur di kawasan perkotaan. Air sungai pun menjadi lebih keruh akibat aktivitasnya, yang semakin menurunkan kualitas habitat.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Bagi nelayan sungai, ikan sapu-sapu menjadi ancaman langsung. Duri tajam yang dimilikinya kerap merusak jaring atau jala, sehingga menambah biaya operasional dan kerugian.

Dari sisi ekonomi, ikan ini hampir tidak memiliki nilai jual. Selain tidak diminati untuk konsumsi, ikan ini juga berpotensi mengandung logam berat akibat hidup di perairan tercemar. Hal ini membuatnya tidak layak secara ekonomi maupun kesehatan.

Keberadaan ikan sapu-sapu juga berdampak pada menurunnya populasi ikan konsumsi. Dengan memakan telur dan larva ikan lain, ikan ini secara tidak langsung mengurangi hasil tangkapan nelayan. Akibatnya, pendapatan masyarakat yang bergantung pada sungai ikut terdampak.

Kenapa Harus Dimusnahkan, atau Justru Mengalihkan Isu?

Ikan sapu-sapu memang tidak memiliki peran ekologis yang positif di habitat barunya. Kehadirannya mengganggu keseimbangan ekosistem dan mengancam keberlangsungan ikan lokal. Populasinya juga sulit dikendalikan setelah menyebar luas.

Namun, langkah pemusnahan secara masif memunculkan pertanyaan kritis: apakah ini solusi utama, atau justru cara instan yang menutup akar persoalan?

Fakta bahwa ikan ini mampu berkembang pesat di sungai-sungai Jakarta tidak bisa dilepaskan dari kondisi lingkungan yang sudah tercemar berat. Ikan sapu-sapu justru bertahan karena kualitas air yang buruk—sementara ikan lokal tidak mampu hidup dalam kondisi tersebut. Artinya, masalah utamanya bukan hanya pada spesies invasif, tetapi pada kualitas ekosistem sungai itu sendiri.

Penanganan pencemaran air sungai di DKI Jakarta selama ini dinilai belum maksimal. Limbah domestik dan industri masih banyak yang belum terkelola dengan baik, menyebabkan kualitas air terus menurun. Dalam kondisi seperti ini, membasmi ikan sapu-sapu tanpa memperbaiki kualitas air berpotensi menjadi kebijakan yang tidak menyentuh akar masalah.

Tanpa perbaikan menyeluruh terhadap pengelolaan limbah dan restorasi ekosistem sungai, ruang kosong yang ditinggalkan ikan sapu-sapu justru dapat kembali diisi oleh spesies invasif lain. Siklus masalah pun berulang.

Upaya Pengendalian yang Lebih Relevan

Pengendalian ikan sapu-sapu tetap diperlukan, tetapi harus dilakukan secara terintegrasi. Penangkapan massal berbasis komunitas dapat menjadi langkah awal untuk menekan populasi. Insentif ekonomi juga dapat mendorong partisipasi masyarakat.

Namun, langkah yang lebih krusial adalah pembenahan kualitas air sungai. Edukasi masyarakat agar tidak membuang limbah sembarangan dan tidak melepas ikan hias ke sungai harus diperkuat. Regulasi terhadap limbah industri juga perlu ditegakkan secara konsisten.

Pemusnahan ikan sapu-sapu dengan cara dijemur lalu dikubur memang dapat menjadi metode teknis yang efektif. Bahkan, hasilnya bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. Namun, tanpa perubahan kebijakan lingkungan yang lebih mendasar, upaya ini hanya menjadi solusi jangka pendek.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *