24/05/2026
Pesta Babi

Sorotan utama dokumenter ini tertuju pada kawasan Papua Selatan, terutama wilayah Merauke, Boven Digoel, Mappi, hingga Asmat. Kawasan tersebut disebut mengalami pembukaan lahan dalam skala sangat besar untuk mendukung proyek strategis nasional seperti food estate, perkebunan tebu bioetanol, dan sawit untuk biodiesel.

Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita memantik perdebatan luas setelah dirilis secara bebas melalui YouTube. Karya hasil kolaborasi antara sutradara Dandhy Dwi Laksono dan antropolog Cypri Paju Dale ini mengangkat sisi lain pembangunan di Papua yang jarang terlihat di ruang publik. Selama hampir satu setengah jam, film menghadirkan benturan nyata antara ekspansi industri berskala besar dan kehidupan masyarakat adat yang perlahan kehilangan tanah serta identitas mereka sendiri.

1. Paradoks Ketahanan Pangan dan Proyek Energi Hijau

Sorotan utama dokumenter ini tertuju pada kawasan Papua Selatan, terutama wilayah Merauke, Boven Digoel, Mappi, hingga Asmat. Kawasan tersebut disebut mengalami pembukaan lahan dalam skala sangat besar untuk mendukung proyek strategis nasional seperti food estate, perkebunan tebu bioetanol, dan sawit untuk biodiesel.

Film ini mencoba menunjukkan bahwa narasi pembangunan dan transisi energi ternyata menyimpan persoalan serius. Di balik jargon ketahanan pangan dan energi hijau, masyarakat adat justru menghadapi ancaman kehilangan sumber kehidupan mereka. Hutan yang selama ini menjadi ruang pangan tradisional, termasuk pohon sagu, ditebang demi kepentingan industri dan investasi besar.

2. Derita Masyarakat Adat di Tengah Ekspansi Korporasi

Dokumenter ini memberi ruang bagi suara masyarakat adat dari suku Marind, Yei, Awyu, hingga Muyu. Mereka menceritakan bagaimana tanah ulayat perlahan berubah menjadi area konsesi perusahaan tanpa persetujuan penuh dari warga adat setempat.

Bagi masyarakat Papua, tanah bukan hanya aset ekonomi. Hutan, rawa, dan sungai merupakan bagian dari identitas budaya sekaligus warisan leluhur yang menjaga kehidupan sosial mereka. Ketika wilayah adat dialihkan menjadi lahan industri, yang hilang bukan hanya alam, tetapi juga ikatan budaya dan masa depan generasi berikutnya.

3. “Salib Merah” sebagai Simbol Perlawanan

Salah satu adegan paling kuat dalam film ini memperlihatkan aksi masyarakat adat yang memasang salib merah dan palang adat di area hutan mereka. Gerakan tersebut terinspirasi dari perjuangan komunitas Awyu dalam mempertahankan tanah leluhur dari ekspansi perusahaan.

Salib merah yang berdiri di tengah hutan menjadi simbol penolakan terhadap masuknya alat berat dan aktivitas industri. Di sisi lain, simbol itu juga merepresentasikan keyakinan spiritual bahwa tanah adat memiliki penjaga dan pemilik yang sah.

4. Militerisasi dan Tekanan terhadap Warga Adat

Film ini juga menyoroti keterlibatan aparat keamanan dalam pengamanan proyek-proyek investasi di Papua. Kehadiran aparat bersenjata di sekitar wilayah adat digambarkan menciptakan tekanan psikologis bagi masyarakat yang berusaha mempertahankan tanah mereka.

Melalui pendekatan investigatif, dokumenter tersebut mencoba menghubungkan situasi hari ini dengan sejarah panjang operasi keamanan di Papua yang kerap berjalan beriringan dengan eksploitasi sumber daya alam.

5. Makna Satir di Balik Judul “Pesta Babi”

Dalam tradisi masyarakat Muyu, pesta babi merupakan ritual adat yang melambangkan rasa syukur, perdamaian, dan solidaritas sosial. Tradisi itu memiliki nilai penting dalam menjaga hubungan antarkelompok masyarakat.

Namun, film ini meminjam istilah tersebut sebagai metafora kritis terhadap situasi Papua saat ini. “Pesta babi” digambarkan sebagai simbol kerakusan elite dan korporasi yang menikmati keuntungan besar dari eksploitasi tanah Papua, sementara masyarakat adat justru terpinggirkan di tanah mereka sendiri.

Kesimpulan

Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita hadir bukan hanya sebagai dokumenter, tetapi juga sebagai kritik terhadap arah pembangunan nasional yang dinilai mengabaikan hak masyarakat adat dan kelestarian lingkungan. Film ini mengajak publik melihat kolonialisme dalam bentuk baru—bukan lagi melalui penjajahan asing, melainkan lewat kebijakan dan investasi yang mengorbankan ruang hidup masyarakat lokal demi kepentingan ekonomi.

Lewat dokumenter ini, isu Papua tidak hanya dipahami sebagai persoalan pembangunan, tetapi juga persoalan keadilan sosial, lingkungan, dan kemanusiaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *