Kontroversi memuncak ketika pertanyaan serupa diajukan kembali dan dijawab oleh Regu dari SMAN 1 Sambas dengan substansi jawaban yang identik. Secara mengejutkan, dewan juri justru menyatakan jawaban tersebut benar dan memberikan poin penuh. Perbedaan perlakuan terhadap jawaban yang sama ini memicu protes keras dari pendamping dan siswa SMAN 1 Pontianak di lokasi acara.
Pontianak, Batas.id– Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang berlangsung pada Sabtu (9/5) menjadi sorotan publik setelah muncul dugaan ketidakkonsistenan penilaian dari dewan juri. Polemik tersebut memicu protes dari peserta dan pendamping sekolah yang merasa dirugikan.
Insiden terjadi pada babak rebutan yang diikuti sejumlah sekolah, termasuk SMAN 1 Pontianak dan SMAN 1 Sambas. Saat itu, Regu C dari SMAN 1 Pontianak mendapat pertanyaan terkait mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Peserta menjawab bahwa anggota BPK dipilih DPR dengan mempertimbangkan DPD dan kemudian diresmikan Presiden.
Namun, jawaban tersebut dinilai salah oleh dewan juri sehingga poin tim dikurangi. Situasi memanas ketika pertanyaan serupa dijawab oleh peserta dari SMAN 1 Sambas dengan substansi jawaban yang hampir sama, tetapi justru dinyatakan benar oleh juri.
Keputusan tersebut langsung menuai protes dari pihak SMAN 1 Pontianak. Mereka mempertanyakan dasar penilaian karena menilai jawaban kedua tim tidak memiliki perbedaan signifikan.
Salah satu dewan juri, Dyastasita Widya Budi, menjelaskan bahwa keputusan diambil karena faktor artikulasi dan kejelasan penyampaian jawaban. Menurutnya, jawaban dari peserta SMAN 1 Pontianak dianggap kurang terdengar jelas dibanding peserta dari Sambas.
Meski demikian, rekaman video yang beredar di media sosial memicu perdebatan publik. Banyak warganet menilai kedua jawaban terdengar serupa sehingga muncul tudingan ketidakadilan dalam proses penjurian.
Menanggapi polemik tersebut, Wakil Ketua MPR RI, Abcandra Muhammad Akbar Supratman, menyampaikan permintaan maaf atas insiden yang terjadi. Ia menyebut pihak penyelenggara akan melakukan evaluasi terhadap kualitas penjurian serta sistem pendukung teknis, termasuk audio perlombaan.
Walau diwarnai kontroversi, hasil akhir tetap menetapkan SMAN 1 Sambas sebagai juara pertama dan berhak mewakili Kalimantan Barat ke tingkat nasional di Jakarta.
Peristiwa ini menjadi perhatian publik karena lomba yang mengusung nilai-nilai Empat Pilar dinilai seharusnya menjunjung tinggi prinsip keadilan, objektivitas, dan sportivitas dalam proses penilaian.
