Hendi kini menatap masa depan dengan lebih optimistis. Ia pun menyampaikan rasa terima kasih atas kesempatan yang diberikan melalui program Sekolah Rakyat.
Sragen, Batas.id – Hendi Saputro sempat harus mengesampingkan pendidikan di usia sekolah dan memilih bekerja di bengkel demi membantu keluarga. Kondisi ayahnya yang mengalami stroke membuatnya tidak memiliki pilihan lain selain ikut mencari penghasilan.
Remaja asal Plosorejo, Bendungan, Kedawung, Kabupaten Sragen tersebut sempat putus sekolah setelah lulus SD. Sejak ibunya meninggal saat ia masih kecil, kondisi ekonomi keluarga semakin terbatas. Ayahnya tidak lagi mampu bekerja, sementara kebutuhan sehari-hari harus tetap dipenuhi bersama adiknya.
Dalam situasi tersebut, Hendi bekerja di bengkel dengan penghasilan sekitar Rp150.000 per minggu. Uang itu digunakan untuk kebutuhan dasar, termasuk makan dan membantu adiknya. Pendidikan pun menjadi hal yang sulit dijangkau dalam kondisi tersebut.

Kesempatan untuk kembali bersekolah datang ketika Hendi diterima di program Sekolah Rakyat Terintegrasi 78 Sragen. Melalui program ini, ia dapat kembali melanjutkan pendidikan tanpa biaya.
Hendi mengaku fasilitas yang diberikan cukup lengkap, mulai dari perlengkapan sekolah hingga perangkat penunjang belajar. Selain itu, kebutuhan dasar seperti makan juga disediakan, sehingga ia dapat lebih fokus pada kegiatan belajar.
Kini, Hendi kembali menjalani kehidupan sebagai pelajar. Ia melihat kesempatan ini sebagai langkah baru untuk memperbaiki masa depan. Salah satu cita-citanya adalah dapat bekerja di luar negeri, termasuk di Jepang.
Kisah Hendi mencerminkan bagaimana akses pendidikan dapat terbuka kembali bagi anak-anak yang sebelumnya terkendala kondisi ekonomi. Dari pengalaman bekerja di usia muda, ia kini kembali berada di lingkungan belajar dengan harapan yang lebih jelas ke depan.
