Penghasilannya tak menentu, untuk biaya hidup saja sudah sulit, apalagi untuk membayar sekolah. Tapi sekarang beban Sri berkurang karena anak pertamanya, Muhammad Reihan Ataya, masuk ke SRMP 12 Pati.
Pati, Batas.id — Keterbatasan ekonomi masih menjadi tantangan bagi sebagian masyarakat di daerah, termasuk dalam mengakses pendidikan. Hal ini dialami oleh Sawinah (48), warga Desa Poh Gading, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, yang berjuang membesarkan dua anaknya seorang diri.
Sejak ditinggal suami yang merantau tanpa kabar, Sawinah menjadi tulang punggung keluarga. Ia bekerja sebagai pedagang dengan penghasilan harian sekitar Rp50.000 hingga Rp100.000 untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus membiayai pendidikan anak-anaknya.

Sejak dulu, kedua anaknya tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Suatu hari, suami Sawinah pamit merantau demi memperoleh penghidupan yang lebih baik. Namun hingga kini, ia tidak pernah kembali ke rumah sederhana itu.
“Bilangnya dulu merantau, tapi sudah berapa tahun (suami) tidak ada kabarnya, tidak ada apa-apanya sampai sekarang,” kenang Sawinah, dikutip Sabtu (25/4).
Alhasil, Sawinah pun berperan sebagai tulang punggung keluarga. Ia berjuang membiayai pendidikan dan memenuhi kebutuhan anak-anaknya dengan penghasilan seadanya.
Saat ini, ia mencari nafkah sebagai pedagang dengan penghasilan kotor rata-rata Rp50.000 hingga Rp100.000 per hari. Sawinah mengaku jumlah tersebut masih kurang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun, ia tetap berupaya mencukupkannya untuk kebutuhan sehari-hari.
“Ya dicukup-cukupkan, mau bagaimana lagi? Menghidupi anak dua,” jelas dia.
Keterbatasan ekonomi tersebut rupanya juga menjadi penghambat bagi anaknya, Bayu Laksono, untuk meneruskan pendidikan ke jenjang SMP.
Awalnya, Bayu sempat bersekolah di salah satu SMP di desanya selama sebulan. Namun, karena tidak punya uang untuk ongkos ke sekolah dan tidak ada yang mengantar, Bayu pun terpaksa mengurungkan niat untuk bersekolah. Peristiwa ini membuat hati Sawinah iba, terlebih Bayu selalu menangis karena sering tidak memiliki ongkos untuk berangkat ke sekolah.
Harapan kemudian muncul ketika Sawinah menerima informasi mengenai Sekolah Rakyat gagasan Presiden Prabowo Subianto di ponselnya. Sebagai seorang ibu yang peduli akan masa depan anaknya, ia pun bersikap proaktif menggali informasi yang lebih dalam lagi.
“Saya tanya-tanya orang, saya tanya-tanya ke guru Sekolah Rakyat, lalu saya diberi tahu untuk tanya ke kepala desa,” tambah dia.
Upaya tersebut membuahkan hasil. Kini, Bayu dapat mengenyam pendidikan di SRMP 12 Pati tanpa dipungut biaya apa pun. Ia juga menerima tas, buku, seragam, sepatu, dan perlengkapan sekolah secara gratis.
Selain itu, Bayu tinggal di asrama gratis sehingga tidak perlu lagi memikirkan ongkos transportasi ke sekolah. Meski demikian, Sawinah mengatakan Bayu tetap memintanya untuk datang menjenguk dua kali dalam sebulan.
“Tapi anak saya juga senang sekolah di sana. Dan dampak ekonominya, saya jadi sedikit-sedikit bisa menabung untuk menjenguknya,” jelas Sawinah.
Ia juga berharap dapat menyekolahkan adik Bayu ke Sekolah Rakyat, setelah melihat perubahan positif pada diri anaknya.
“Bayu tambah pintar, tambah mandiri. Sopan santunnya juga sudah berbeda, sudah sopan berbicara dengan orang tua,” katanya.
