28/10/2026
Screenshot 2026-10-28 at 16.16.15

Jakarta, Batas.id – Sebanyak 10.000 hingga 12.000 mahasiswa dan aktivis masyarakat sipil ditargetkan mengikuti aksi unjuk rasa di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2026). Aksi yang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda tersebut membawa sejumlah tuntutan terkait kebijakan pemerintah dan persoalan nasional.

Sebelum menuju Jakarta, peserta aksi dari berbagai perguruan tinggi berkumpul di Lapangan FISIP Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat. Massa yang terlibat tidak hanya berasal dari UI, tetapi juga sejumlah kampus lain, termasuk peserta dari luar wilayah Jabodetabek.

Koordinator Bidang Sosial Politik BEM UI, Hafidz Haernanda, menyebut jumlah peserta yang ditargetkan mencapai 10.000 hingga 12.000 orang. Selain mahasiswa, aksi ini melibatkan berbagai elemen masyarakat, seperti buruh, petani, dan kelompok masyarakat sipil lainnya.

Dalam demonstrasi tersebut, peserta berencana menyampaikan tuntutan mengenai perbaikan kebijakan ekonomi, pemangkasan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), serta penetapan status bencana nasional untuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Hafidz menjelaskan, aksi ini sekaligus menjadi momentum evaluasi terhadap dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming. Ia menilai aspirasi dan kritik yang selama ini disampaikan masyarakat belum memperoleh tanggapan yang memadai dari pemerintah.

Menurut Hafidz, persoalan utama yang ingin disoroti bukan hanya banyaknya tuntutan, melainkan sejauh mana pemerintah bersedia mendengarkan dan menindaklanjuti aspirasi publik.

Ia juga mengingatkan bahwa apabila aspirasi massa kembali tidak mendapat perhatian, masyarakat perlu mempertanyakan sejauh mana ruang penyampaian kritik dan kebebasan berpendapat benar-benar dihargai.

Sementara itu, perwakilan Komite Selamatkan Daulat Rakyat (Sadar) sekaligus mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Rafi, mengatakan demonstrasi tersebut merupakan bentuk respons terhadap berbagai persoalan yang sedang dihadapi Indonesia.

Ia menyampaikan bahwa gerakan tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dan mendorong pemerintah agar lebih terbuka dalam menerima aspirasi warga.

Rafi menegaskan, aksi 28 Oktober tidak terbatas pada kalangan mahasiswa dan pemuda. Seluruh elemen masyarakat sipil diajak berpartisipasi untuk menyampaikan keresahan serta pandangan mereka mengenai kondisi bangsa.

Para mahasiswa menyatakan akan terus menyuarakan tuntutan melalui aksi lanjutan apabila aspirasi masyarakat dinilai belum mendapat perhatian dari pemerintah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *