ilustrasi by AI
Manchester, Batas.id — Manchester City dilaporkan dinyatakan bersalah atas 114 dari 115 dakwaan pelanggaran aturan finansial Premier League oleh komisi independen yang menangani perkara tersebut.
Kasus ini berkaitan dengan dugaan pelanggaran aturan keuangan klub selama periode musim 2009/10 hingga 2017/18. Premier League secara resmi merujuk perkara tersebut kepada komisi independen pada Februari 2023 setelah penyelidikan yang berlangsung selama beberapa tahun.
Laporan mengenai hasil putusan tersebut muncul pada Jumat (25/9/2026). Berdasarkan pemberitaan sejumlah media, satu dari 115 dakwaan tidak terbukti, sementara 114 lainnya dinyatakan terbukti.
Meski demikian, dokumen lengkap putusan belum dipublikasikan. Manchester City juga menyatakan proses hukum masih berlangsung dan sejumlah bagian perkara masih harus diselesaikan.
Lima Kelompok Dakwaan
Secara umum, perkara yang dihadapi Manchester City mencakup sejumlah kategori pelanggaran aturan finansial Premier League dan UEFA.
1. Informasi Keuangan Tidak Akurat
Sebanyak 54 dakwaan berkaitan dengan kewajiban klub memberikan informasi keuangan secara akurat kepada Premier League.
Dakwaan ini mencakup informasi mengenai pendapatan klub, termasuk pendapatan sponsor, transaksi dengan pihak terkait, serta biaya operasional. Premier League dalam rujukan resminya menyebut kewajiban tersebut berlaku pada setiap musim dari 2009/10 hingga 2017/18.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah dugaan ketidaksesuaian antara nilai pendapatan sponsor yang dilaporkan dengan sumber pendanaan sebenarnya.
2. Informasi Pembayaran Manajer dan Pemain
Kategori berikutnya terdiri dari 14 dakwaan terkait informasi mengenai pembayaran kepada manajer dan pemain.
Perkara tersebut antara lain berkaitan dengan dugaan ketidaksesuaian dalam pelaporan remunerasi mantan manajer Roberto Mancini serta sejumlah persoalan terkait pembayaran kepada pemain.
Dugaan mengenai pembayaran yang tidak tercermin secara akurat dalam laporan keuangan menjadi bagian dari perkara yang diperiksa komisi independen.
3. Pelanggaran Regulasi UEFA
Manchester City juga menghadapi lima dakwaan terkait regulasi lisensi klub dan Financial Fair Play (FFP) UEFA.
Dakwaan tersebut berkaitan dengan periode ketika aturan finansial UEFA berlaku terhadap klub. Persoalan kepatuhan terhadap regulasi tersebut menjadi salah satu bagian dari keseluruhan perkara yang diajukan Premier League.
4. Pelanggaran Profitability and Sustainability Rules
Sebanyak tujuh dakwaan berkaitan dengan aturan Profitability and Sustainability Rules (PSR) Premier League.
Aturan tersebut mengatur batas kerugian yang dapat ditanggung klub dalam periode tertentu dengan tujuan menjaga keberlanjutan finansial klub-klub peserta kompetisi.
5. Tidak Bekerja Sama dalam Penyelidikan
Kategori terakhir mencakup 35 dakwaan terkait dugaan kegagalan Manchester City memberikan kerja sama selama proses investigasi Premier League.
Dakwaan ini berkaitan dengan periode Desember 2018 hingga Februari 2023. Premier League menilai klub memiliki kewajiban memberikan informasi dan dokumen yang diperlukan dalam proses pemeriksaan.
Sanksi Belum Diputuskan
Meskipun laporan mengenai putusan 114 dakwaan telah beredar, sanksi terhadap Manchester City belum ditetapkan.
Dalam sistem disipliner Premier League, komisi independen memiliki sejumlah pilihan sanksi, termasuk denda, pengurangan poin, dan sanksi olahraga lainnya. Pihak yang dikenai putusan juga memiliki mekanisme untuk mengajukan keberatan atau banding sesuai aturan kompetisi.
Karena itu, berbagai kemungkinan hukuman yang beredar saat ini masih berupa skenario, bukan keputusan resmi. Di antara sanksi yang menjadi pembahasan media adalah pengurangan poin dalam jumlah besar hingga kemungkinan sanksi yang memengaruhi status klub di Premier League.
Manchester City sendiri diperkirakan akan menempuh proses banding terhadap hasil tersebut. Hingga keputusan dan sanksi resmi diumumkan, belum dapat dipastikan bentuk hukuman yang akan dijatuhkan kepada klub.
Perkara ini menjadi salah satu proses disipliner terbesar dalam sejarah Premier League dan masih dapat berlanjut melalui mekanisme hukum yang tersedia bagi Manchester City
