09/10/2026
Screenshot 2026-10-09 at 13.20.38

Halmahera Tengah, Batas.id – Program hilirisasi industri terus menunjukkan perkembangan selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Peningkatan ini tercermin dari bertambahnya porsi investasi hilirisasi dalam realisasi investasi nasional serta berkembangnya industri pengolahan di berbagai daerah.

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menyampaikan bahwa realisasi investasi Indonesia pada semester pertama 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun. Angka tersebut meningkat 7,2 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya dan mampu menyerap lebih dari 1,4 juta tenaga kerja.

Pernyataan tersebut disampaikan Rosan dalam kegiatan peletakan batu pertama dan komersialisasi 11 ekosistem hilirisasi nikel serta ekspor perdana baterai kendaraan listrik di Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara, Kamis (8/10/2026).

Menurut Rosan, pertumbuhan investasi tidak hanya terlihat dari nilai nominalnya, tetapi juga dari meningkatnya kontribusi sektor hilirisasi terhadap keseluruhan investasi nasional.

Dalam dua tahun terakhir, porsi investasi hilirisasi yang sebelumnya berada di kisaran 25 persen meningkat menjadi sekitar 30 persen dari total investasi yang terealisasi. Perkembangan ini menunjukkan semakin besarnya peran industri pengolahan dalam struktur investasi Indonesia.

Berdasarkan sektor usaha, investasi pada semester pertama 2026 masih didominasi industri logam dasar dan barang logam, termasuk produk yang bukan mesin maupun peralatan. Sektor lainnya yang turut memberikan kontribusi meliputi jasa lainnya, pertambangan, transportasi, pergudangan dan telekomunikasi, serta perumahan, kawasan industri dan perkantoran.

Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, hilirisasi juga dinilai berperan dalam memperluas persebaran investasi di luar Pulau Jawa. Rosan menyebut lebih dari 75 persen realisasi investasi berada di luar Jawa, yang menunjukkan meningkatnya aktivitas ekonomi di berbagai wilayah Indonesia.

Maluku Utara menjadi salah satu contoh perkembangan tersebut. Wilayah yang sebelumnya dikenal sebagai daerah penghasil bahan tambang kini berkembang menjadi pusat industri pengolahan mineral dan logam.

Produk yang dihasilkan dari proses hilirisasi di daerah itu juga semakin beragam. Jika sebelumnya ekspor lebih banyak mengandalkan bijih mineral mentah, kini komoditas yang dipasarkan mencakup produk olahan seperti feronikel, nickel matte, Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), nickel sulfate, hingga kobalt.

Perluasan jenis produk tersebut mencerminkan upaya meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sebelum dipasarkan ke luar negeri. Pengembangan ekosistem hilirisasi nikel dan baterai kendaraan listrik juga menjadi bagian dari penguatan industri pengolahan serta rantai pasok kendaraan listrik di Indonesia.

Dengan meningkatnya porsi investasi hilirisasi, pemerintah mendorong agar pengembangan industri tidak hanya meningkatkan nilai investasi, tetapi juga memperluas kesempatan kerja dan aktivitas ekonomi di berbagai daerah.

Ke depan, perkembangan hilirisasi menjadi salah satu aspek yang perlu dicermati dalam melihat arah investasi nasional, terutama terkait keberlanjutan proyek, peningkatan nilai tambah dalam negeri, dan dampak ekonominya terhadap masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *