29/09/2026
Screenshot 2026-09-28 at 10.38.40

Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Sugiono menyampaikan national statement Indonesia dalam Debat Umum Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di New York, Amerika Serikat, Sabtu (26/9/2026). Sugiono hadir mewakili Presiden Prabowo Subianto dalam agenda tersebut.

Dalam pidatonya, Sugiono menyampaikan sejumlah agenda utama politik luar negeri Indonesia, mulai dari dukungan terhadap Palestina, penguatan multilateralisme, pembangunan inklusif, hingga pencalonan Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB periode 2029–2030.

Buka Pidato dengan Salam Lintas Agama

Sugiono mengawali pidatonya dengan salam lintas agama yang mencerminkan keberagaman Indonesia. Pembukaan tersebut mendapat sambutan tepuk tangan dari para delegasi yang hadir.

Pesan keberagaman tersebut menjadi bagian dari pengenalan Indonesia di forum internasional sekaligus menegaskan pendekatan diplomasi yang mengedepankan persatuan dan kerja sama.

Soroti Situasi Palestina

Persoalan Palestina menjadi salah satu perhatian utama dalam pidato Sugiono. Ia menyampaikan bahwa situasi kemanusiaan di Palestina menjadi salah satu ujian bagi komitmen masyarakat internasional terhadap hukum internasional dan sistem multilateral.

Indonesia kembali menegaskan dukungannya terhadap hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri serta mendorong terwujudnya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat melalui solusi dua negara.

Posisi tersebut ditempatkan dalam konteks komitmen Indonesia terhadap prinsip-prinsip hukum internasional dan penyelesaian konflik secara damai.

Indonesia Maju sebagai Kandidat DK PBB 2029–2030

Dalam forum tersebut, Sugiono juga secara resmi mengumumkan pencalonan Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB untuk periode 2029–2030.

Indonesia mengusung tema “Membangun Persatuan, Memajukan Perdamaian” dalam pencalonan tersebut. Pemerintah menyatakan tema itu berkaitan dengan upaya memperkuat kepercayaan terhadap multilateralisme serta mendorong penerapan hukum internasional secara konsisten.

Tekankan Ketahanan dan Pembangunan Inklusif

Sugiono juga menyampaikan pentingnya memperkuat ketahanan nasional dan regional sebagai bagian dari upaya menghadapi berbagai tantangan global.

Menurut pesan yang disampaikannya, pembangunan, pengentasan kemiskinan, serta pemenuhan kebutuhan dasar seperti pangan, pendidikan, dan kesehatan perlu menjadi bagian dari agenda bersama masyarakat internasional.

Ia juga mengaitkan penguatan ketahanan dengan tantangan baru, termasuk transformasi digital, perubahan iklim, dan transisi menuju ekonomi hijau. Indonesia mendorong sistem multilateral yang mampu mendukung ketahanan bersama dalam menghadapi berbagai krisis tersebut.

Bawa Prinsip Diplomasi Prabowo

Dalam pidatonya, Sugiono turut menyampaikan prinsip politik luar negeri yang ditekankan Presiden Prabowo Subianto, yakni pentingnya membangun sebanyak mungkin hubungan kerja sama dan menghindari permusuhan.

Prinsip tersebut tercermin dalam keterlibatan Indonesia di berbagai forum internasional, termasuk ASEAN, G20, BRICS, MIKTA, dan PBB.

Melalui pidato tersebut, Indonesia kembali menyampaikan posisi dan agenda diplomatiknya di tengah berbagai persoalan global, dengan penekanan pada penguatan kerja sama multilateral, penghormatan terhadap hukum internasional, serta upaya menciptakan perdamaian dan pembangunan yang inklusif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *