23/10/2026
Screenshot 2026-10-23 at 08.55.14

Jakarta, batas.id – Pemerintah mengembangkan sejumlah pendekatan untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta mengurangi dampak kabut asap di tengah kondisi minim hujan. Berbagai metode alternatif diterapkan untuk mengatasi kendala pemadaman, terutama di kawasan gambut yang menyimpan api hingga ke lapisan bawah tanah.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menjelaskan, karakteristik lahan gambut membuat proses pemadaman lebih sulit dibandingkan kebakaran di lahan biasa. Api dapat menjalar ke lapisan bawah permukaan sehingga membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar untuk mendinginkan area yang terbakar dan mencegah api kembali menyala.

Dalam kondisi tersebut, pemadaman konvensional maupun operasi water bombing dari udara dinilai belum selalu mencukupi. Penanganan yang efektif membutuhkan ketersediaan air dalam volume besar atau dukungan hujan untuk membantu membasahi lahan gambut.

Namun, kemarau berkepanjangan menjadi kendala tersendiri karena mengurangi peluang turunnya hujan sekaligus menyulitkan penyediaan sumber air untuk pemadaman.

Tito mengatakan, kondisi tersebut mendorong pemerintah mencari pendekatan baru agar penanganan karhutla dapat dilakukan lebih efektif. Salah satu metode yang dicoba adalah penggunaan surfaktan, yaitu bahan yang dapat membantu air membasahi dan menembus material tertentu dengan lebih baik.

Penggunaan surfaktan diharapkan membantu air menjangkau lapisan gambut yang terbakar dan mempertahankan kelembapan lebih lama. Menurut Tito, metode tersebut telah diterapkan sebagai salah satu upaya penanganan karhutla di Kalimantan Selatan.

Selain itu, pemerintah mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk meningkatkan peluang hujan di wilayah terdampak. Meski demikian, pelaksanaan operasi tersebut bergantung pada ketersediaan awan yang memenuhi persyaratan untuk disemai.

Karena itu, kondisi atmosfer menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan modifikasi cuaca dalam mendukung upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan.

Dry Ice Digunakan untuk Mengurangi Dampak Asap

Selain berfokus pada pemadaman api, pemerintah juga berupaya mengurangi dampak kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat dan jarak pandang.

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Dudung Abdurachman menyampaikan bahwa salah satu pendekatan yang dilakukan adalah pemanfaatan es kering atau dry ice dalam operasi modifikasi cuaca.

Metode tersebut ditujukan untuk memengaruhi kondisi atmosfer agar asap yang terperangkap dapat terangkat dan menyebar. Dengan berkurangnya konsentrasi asap di dekat permukaan, jarak pandang diharapkan dapat membaik.

Dudung menyebut penerapan metode tersebut telah diluncurkan di Sumatera Selatan. Pemerintah juga memastikan penanganan karhutla terus dilakukan melalui berbagai pendekatan, disertai koordinasi lintas sektor untuk mengoptimalkan upaya pemadaman dan pengendalian dampak asap.

Menurutnya, penanganan karhutla menjadi perhatian pemerintah dan membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Koordinasi diperlukan agar upaya pengendalian kebakaran dapat berjalan seiring dengan perlindungan masyarakat dari dampak asap.

Koordinasi Lintas Sektor Jadi Kunci

Berbagai pendekatan, mulai dari pemanfaatan surfaktan, modifikasi cuaca, hingga penggunaan dry ice, menjadi bagian dari upaya menghadapi tantangan karhutla di tengah terbatasnya curah hujan.

Pemadaman di lahan gambut memerlukan penanganan khusus karena api dapat bertahan di bawah permukaan tanah. Sementara itu, pengendalian asap membutuhkan langkah tambahan agar dampaknya terhadap kesehatan masyarakat, aktivitas transportasi, dan jarak pandang dapat diminimalkan.

Keberhasilan penanganan juga bergantung pada kesiapan personel, ketersediaan air, kondisi atmosfer, serta koordinasi antarlembaga di wilayah terdampak.

Pemerintah diharapkan terus mengoptimalkan langkah pencegahan, pemadaman, dan pengendalian asap agar risiko karhutla dapat ditekan serta keselamatan masyarakat tetap terjaga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *