21/05/2026
Kebijakan distribusi Sufor masal

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) secara tegas menolak dan mengkritik kebijakan distribusi susu formula secara massal tanpa adanya pemeriksaan dokter dan indikasi medis yang jelas

Jakarta, Batas.id – Rencana pembagian susu formula secara massal kepada bayi dan anak bawah tiga tahun (batita) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) menuai kritik dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Organisasi profesi dokter anak tersebut meminta pemerintah mengevaluasi kembali kebijakan yang dinilai berpotensi mengganggu kesehatan dan tumbuh kembang anak.

Dalam surat terbuka yang disampaikan kepada pemerintah, Pengurus Pusat IDAI menilai distribusi susu formula tanpa pengawasan medis dapat menurunkan angka pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif di Indonesia. Menurut IDAI, pemberian susu formula secara gratis dan merata bisa memunculkan persepsi di masyarakat bahwa susu formula setara dengan ASI, padahal keduanya memiliki kandungan yang sangat berbeda.

IDAI menegaskan bahwa ASI memiliki komponen alami penting seperti antibodi, enzim, serta bakteri baik yang berperan dalam membangun sistem kekebalan tubuh bayi. Kandungan tersebut tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh susu formula. Selain itu, penghentian proses menyusui dapat menyebabkan produksi ASI ibu menurun sehingga menyulitkan proses menyusui kembali.

Organisasi tersebut juga menyoroti potensi risiko kesehatan akibat penggunaan susu formula tanpa indikasi medis yang jelas. Pemberian susu formula secara tidak tepat berisiko menyebabkan alergi, gangguan pencernaan, hingga infeksi akibat proses penyajian yang tidak higienis. Kondisi itu dinilai dapat bertolak belakang dengan upaya pemerintah dalam menekan angka stunting nasional.

Dari aspek regulasi, IDAI mengingatkan bahwa distribusi produk pengganti ASI harus mengikuti ketentuan hukum yang berlaku. Dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan serta PP Nomor 28 Tahun 2024, penggunaan susu formula hanya diperbolehkan berdasarkan rekomendasi tenaga kesehatan dan indikasi medis tertentu.

IDAI juga meminta pemerintah mematuhi Kode Internasional Pemasaran Produk Pengganti ASI yang diterbitkan WHO guna mencegah promosi susu formula secara berlebihan di masyarakat.

Sebagai alternatif, IDAI menyarankan pemerintah lebih fokus memperkuat program Makanan Pendamping ASI (MPASI) berbasis pangan lokal. Penyediaan sumber protein hewani seperti telur, ikan, dan daging dinilai lebih efektif untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekaligus membantu percepatan penurunan stunting di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *