01/10/2026
KRI_Sriwijaya_1

Source: Wikipedia

Jakarta, Batas.id – Kehadiran kapal induk pertama Indonesia, KRI Sriwijaya-100, menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan pertahanan maritim nasional. Tak hanya difungsikan sebagai alat utama sistem persenjataan (alutsista), kapal tersebut juga dipersiapkan untuk mendukung operasi kemanusiaan dan penanggulangan bencana di berbagai wilayah Indonesia.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, menjelaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan agar KRI Sriwijaya-100 dimodifikasi untuk menunjang pengoperasian helikopter dan pesawat tanpa awak atau drone.

Arahan tersebut disampaikan Presiden dalam Rapat Kabinet Terbatas terkait penanganan bencana pada Senin (7/9/2026). Pengembangan kemampuan kapal ini diharapkan dapat memperkuat pelaksanaan Operasi Militer Selain Perang (OMSP), terutama dalam menghadapi situasi darurat dan menjalankan misi kemanusiaan.

“Kemampuan tersebut diprioritaskan untuk mendukung Operasi Militer Selain Perang (OMSP), khususnya penanggulangan bencana dan misi kemanusiaan,” ujar Qodari dalam keterangannya, Senin (28/9/2026).

Menurut Qodari, karakter geografis Indonesia sebagai negara kepulauan menuntut adanya sarana pertahanan yang memiliki mobilitas tinggi dan mampu menjangkau wilayah terpencil secara cepat. Oleh sebab itu, modernisasi alutsista perlu disesuaikan dengan kebutuhan serta tantangan yang dihadapi Indonesia.

Ia menilai penguatan KRI Sriwijaya-100 bukan sekadar menambah kapasitas militer, melainkan juga menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan nasional agar negara semakin siap melindungi masyarakat dalam berbagai kondisi.

Dukung Distribusi Bantuan ke Wilayah Terdampak Bencana

Indonesia merupakan salah satu negara yang menghadapi beragam potensi bencana, mulai dari gempa bumi, banjir, tanah longsor, hingga kebakaran hutan dan lahan. Dalam kondisi darurat, proses penyaluran bantuan kerap menghadapi kendala akibat rusaknya akses transportasi maupun infrastruktur.

Qodari menjelaskan bahwa tantangan penanganan bencana tidak berhenti pada ketersediaan logistik. Kecepatan distribusi bantuan, mobilisasi personel, serta kemampuan menjangkau masyarakat terdampak juga menjadi faktor penting, terutama ketika akses jalan, jembatan, dan pelabuhan mengalami gangguan.

Dalam situasi tersebut, KRI Sriwijaya-100 diharapkan dapat memberikan dukungan melalui kemampuan operasional helikopter serta pengangkutan berbagai kebutuhan darurat.

Dengan fasilitas yang dikembangkan, kapal ini berpotensi menjadi sarana pendukung distribusi bantuan kemanusiaan menuju daerah yang sulit dijangkau menggunakan transportasi darat maupun jalur konvensional lainnya.

Pemanfaatan tersebut juga sejalan dengan peran TNI dalam menjalankan operasi militer selain perang, termasuk membantu pemerintah menangani bencana alam, melaksanakan evakuasi, dan mendukung kegiatan kemanusiaan.

Qodari menegaskan bahwa kehadiran KRI Sriwijaya-100 diharapkan memberikan manfaat yang lebih luas, tidak hanya bagi penguatan pertahanan laut, tetapi juga dalam meningkatkan kesiapan negara menghadapi berbagai keadaan darurat.

Dengan demikian, pengembangan kapal induk tersebut diarahkan untuk mendukung dua kebutuhan sekaligus, yakni memperkuat pertahanan maritim Indonesia serta memperluas kemampuan respons dan bantuan bagi masyarakat ketika terjadi bencana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *