02/05/2026
MUSEUM WARSINAH

Rencana pembangunan Museum Marsinah pun diharapkan tidak hanya bersifat simbolik. Lebih dari itu, museum ini diharapkan mampu menghadirkan narasi yang utuh mengenai perjalanan panjang perjuangan buruh, sekaligus menjadi pengingat bahwa isu ketenagakerjaan masih relevan dan terus membutuhkan perhatian dari berbagai pihak.

Nganjuk, Batas.id – Rencana peresmian Museum Marsinah di Desa Nglundo, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, kembali mencuat dalam peringatan Hari Buruh Internasional yang digelar di kawasan Monumen Nasional (Monas). Museum ini akan menjadi ruang dokumentasi sekaligus edukasi mengenai sejarah perjuangan buruh di Indonesia.

Museum tersebut didedikasikan untuk mengenang Marsinah, aktivis buruh yang dikenal luas sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan di tempat kerja. Namanya selama ini kerap menjadi rujukan dalam berbagai diskursus ketenagakerjaan, terutama terkait hak-hak pekerja dan perlindungan hukum.

Keberadaan museum ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih luas kepada masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai dinamika perjuangan buruh dari masa ke masa. Selain sebagai tempat penyimpanan arsip dan sejarah, museum ini juga diharapkan menjadi ruang refleksi atas kondisi ketenagakerjaan yang masih terus berkembang.

Momentum peringatan Hari Buruh tahun ini turut diwarnai dengan berbagai isu ketenagakerjaan yang masih menjadi perhatian. Sejumlah kebijakan terkait perlindungan pekerja kembali disorot, termasuk rencana ratifikasi Konvensi ILO Nomor 188 yang menyangkut perlindungan bagi pekerja sektor perikanan.

Di sisi lain, regulasi terkait pekerja transportasi daring juga menjadi topik pembahasan. Dalam aturan terbaru, disebutkan adanya jaminan kesehatan kerja serta skema pembagian hasil yang lebih besar bagi mitra pengemudi. Meski demikian, berbagai kalangan menilai implementasi kebijakan tersebut masih memerlukan pengawasan yang konsisten agar benar-benar dirasakan manfaatnya oleh pekerja di lapangan.

Peringatan May Day sendiri menjadi ruang bagi buruh untuk menyuarakan aspirasi mereka, mulai dari isu upah layak, jaminan sosial, hingga kepastian kerja. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun sejumlah kebijakan telah diperkenalkan, tantangan dalam sektor ketenagakerjaan belum sepenuhnya terselesaikan.

Rencana pembangunan Museum Marsinah pun diharapkan tidak hanya bersifat simbolik. Lebih dari itu, museum ini diharapkan mampu menghadirkan narasi yang utuh mengenai perjalanan panjang perjuangan buruh, sekaligus menjadi pengingat bahwa isu ketenagakerjaan masih relevan dan terus membutuhkan perhatian dari berbagai pihak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *