JAKARTA TIMUR, Batas.id – Sebuah langkah konkret untuk menaikkan kelas para praktisi pendingin tanah air mulai dimatangkan. Bertempat di Gedung Rektorat Universitas Dharma Persada (UNSADA), Duren Sawit, Jakarta Timur, berlangsung pertemuan strategis pembahasan kerja sama program upskilling bagi anggota Apitu Indonesia, Rabu (28/01).
Kolaborasi ini melibatkan tiga elemen kunci: UNSADA sebagai institusi pendidikan, Apitu Indonesia sebagai wadah profesi, dan PT Panasonic Gobel Indonesia sebagai mitra industri.
Inisiatif program ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan hasil penelitian Departemen Litbang dan SDM Apitu Indonesia yang dipimpin oleh Dr. Suhengki A.Pi., MT, dengan supervisi dari Penasehat Apitu Indonesia, Dr. Kamin Sumardi, M.Pd. pada tahun 2025, ditemukan fakta bahwa sekitar 72% lebih anggota Apitu Indonesia memiliki latar belakang pendidikan setingkat SLTA ke bawah.

Melihat data tersebut, peningkatan kapasitas melalui jalur formal menjadi kebutuhan mendesak. Salah satu solusi yang ditawarkan dalam kerja sama ini adalah pola Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Dengan sistem RPL, pengalaman kerja bertahun-tahun yang dimiliki anggota Apitu dapat dikonversi menjadi Satuan Kredit Semester (SKS), sehingga masa studi untuk meraih gelar sarjana (S1) menjadi lebih efisien.
Program upskilling ini akan difokuskan pada lima program studi strategis di UNSADA, yaitu:
- Teknik Mesin dan Teknik Mesin Industri
- Teknik Perkapalan dan Teknik Sistem Perkapalan
- Teknik Elektro
Rektor UNSADA, Dr. Agus Salim Dasuki, M.Eng., menyatakan kesiapannya untuk segera mewujudkan kerja sama ini sebagai bagian dari Tridharma Perguruan Tinggi. Beliau berharap akademisi dan praktisi dapat bersinergi membangun industri yang lebih kuat.

Ketua Umum Apitu Indonesia, Agus Susilo, menekankan bahwa peningkatan kemampuan akademis dan soft skill melalui bangku kuliah akan sangat menunjang bisnis anggota di masa depan.
“Kami ingin anggota tidak hanya mahir secara praktik di lapangan, tapi juga kuat secara manajerial dan akademis. Program ini pun kami buka lebih luas, tidak hanya untuk anggota, tapi juga untuk keluarga mereka,” ungkap Agus.
Dukungan penuh juga datang dari PT Panasonic Gobel Indonesia. Mewakili perusahaan, Ismaji selaku Ketua Harian 1 Yayasan Melati Sakura, menyambut gembira skema kolaborasi ini. Ia bahkan memberikan angin segar bagi calon mahasiswa.
“Bagi mereka yang berprestasi dalam program ini, tersedia peluang untuk mendapatkan beasiswa ke Jepang,” tutur Ismaji, menegaskan komitmen Panasonic dalam pengembangan SDM Indonesia.

Pertemuan ini diharapkan segera berlanjut ke tahap penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) agar para teknisi pendingin di seluruh Indonesia dapat segera mengenyam pendidikan tinggi dan meningkatkan daya saing nasional.
Kontributor MJN
