07/09/2026
Screenshot 2026-09-07 at 14.36.23

BMKG mengimbau masyarakat dan sektor pertanian bersiap menghadapi El Nino sangat kuat yang diperkirakan berlangsung hingga awal 2027.

Jakarta, Batas.id — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat, pemerintah daerah, serta sektor pertanian meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak kondisi iklim ekstrem yang terjadi tahun ini.

Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab, mengatakan sebagian besar wilayah Indonesia saat ini memasuki periode puncak musim kemarau. Kondisi tersebut diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September 2026.

“Saat ini sebagian besar wilayah Indonesia sedang dalam periode puncak musim kemarau. Kami perkirakan puncak musim kemarau terjadi pada periode Agustus hingga September 2026 ini,” ujar Fachri.

Menurut Fachri, kondisi kemarau tahun ini turut diperkuat oleh fenomena El Nino yang saat ini berada pada intensitas sangat kuat. Fenomena tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2027.

“Musim kemarau kita tahun ini diperparah dengan aktifnya fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat. El Nino kita perkirakan masih akan berlangsung sampai awal 2027,” katanya.

Kombinasi musim kemarau dan El Nino tersebut berpotensi menyebabkan berkurangnya curah hujan serta memperpanjang periode kering di sejumlah wilayah Indonesia.

Kondisi ini dapat berdampak terhadap berbagai sektor, terutama ketersediaan air bersih, produksi pangan, dan pertanian. Selain itu, periode kering juga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

BMKG memperkirakan peralihan dari musim kemarau menuju musim penghujan akan berlangsung secara bertahap. Kondisi tersebut diprediksi mulai terjadi pada pertengahan Oktober hingga akhir November 2026.

“Peralihan ke musim penghujan, kami prediksi akan berlangsung pada pertengahan Oktober hingga akhir November 2026 ini,” ujar Fachri.

Menghadapi kondisi tersebut, BMKG terus melakukan pemantauan terhadap dinamika atmosfer dan menyebarluaskan informasi iklim terkini kepada kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah.

Informasi tersebut diharapkan dapat menjadi dasar bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam menyusun langkah antisipasi, mulai dari memastikan ketersediaan pasokan air, mengoptimalkan pengelolaan lahan pertanian, hingga memperkuat pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Masyarakat dan sektor-sektor yang berpotensi terdampak juga diimbau memanfaatkan informasi cuaca dan iklim dari BMKG sebagai dasar dalam menyesuaikan aktivitas dan mengambil langkah mitigasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *