05/07/2026
Gerakan Tanam Bersama

Pemerintah mempercepat pengembangan Papua Selatan sebagai lumbung pangan nasional melalui cetak sawah, modernisasi pertanian, dan investasi Rp1,3 triliun guna meningkatkan produksi serta kesejahteraan petani.

Jakarta, Batas.id — Pemerintah terus mempercepat pembangunan kawasan pangan di Papua Selatan sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan nasional. Melalui pengembangan pertanian modern berskala besar, berbagai dukungan mulai dari program cetak sawah, optimalisasi lahan, penyediaan alat dan mesin pertanian, hingga pembangunan infrastruktur pascapanen terus dipacu agar produksi pangan nasional meningkat secara berkelanjutan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan program cetak sawah dilaksanakan berdasarkan aspirasi masyarakat dengan tetap menjamin kepemilikan lahan berada di tangan petani.

“Program cetak sawah ini merupakan aspirasi masyarakat dan seluruh lahannya tetap menjadi milik masyarakat,” ujar Amran dalam keterangannya, Minggu (5/7).

Papua Selatan kini menjadi pusat pengembangan kawasan pangan baru nasional. Pemerintah telah mengembangkan 83.030 hektare lahan cetak sawah dan 54.399 hektare optimalisasi lahan di wilayah Tanah Papua. Dari jumlah tersebut, Papua Selatan menjadi lokasi terbesar dengan 48.934 hektare lahan cetak sawah serta 53.499 hektare optimalisasi lahan, sehingga total kawasan produksi pangan yang disiapkan mendekati 100 ribu hektare.

Untuk mempercepat pembangunan kawasan tersebut, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp1,3 triliun pada 2026. Dana tersebut digunakan untuk penyediaan benih unggul, alat dan mesin pertanian, pembangunan Rice Milling Unit (RMU), fasilitas pengering gabah, gudang penyimpanan, hingga berbagai infrastruktur pendukung lainnya.

Amran menegaskan pemerintah tidak hanya menyediakan sarana produksi, tetapi juga memberikan pendampingan kepada petani serta memastikan hasil panen memiliki kepastian pasar sesuai arahan Presiden.

Menurutnya, modernisasi pertanian yang diterapkan di Merauke mulai memberikan hasil nyata. Pemanfaatan teknologi seperti traktor, drone pertanian, rice transplanter, combine harvester, dan berbagai peralatan modern lainnya mampu meningkatkan produktivitas gabah yang sebelumnya sekitar 3 ton per hektare menjadi 4 hingga 7 ton per hektare.

Selain meningkatkan hasil panen, pemerintah juga menargetkan peningkatan indeks pertanaman dari dua kali menjadi tiga kali tanam dalam setahun agar produksi pangan nasional terus bertambah.

Peningkatan produktivitas tersebut berdampak terhadap kesejahteraan petani. Berdasarkan data pemerintah daerah, pendapatan petani di kawasan pengembangan meningkat hingga 300 persen setelah memanfaatkan program cetak sawah dan mekanisasi pertanian.

Tingginya antusiasme masyarakat juga terlihat dari usulan penambahan sekitar 2.000 hektare lahan cetak sawah baru guna memperluas kawasan produksi pangan di Papua Selatan.

Pemerintah turut menjamin pemasaran hasil panen melalui Perum BULOG yang akan menyerap gabah dan beras petani sesuai ketentuan yang berlaku. Sebagai bagian dari upaya tersebut, pemerintah akan membangun gudang BULOG di Merauke dengan kapasitas awal sekitar 3.000 ton yang nantinya dapat ditingkatkan hingga 5.000 ton.

Gudang tersebut akan dilengkapi fasilitas pengering dan pengolahan beras untuk menjaga kualitas hasil panen, mengurangi kehilangan hasil, serta memperkuat rantai pasok pangan nasional dari tingkat produksi hingga distribusi.

Amran mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama memperkuat sektor pertanian sebagai fondasi ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ke depan, pemerintah memproyeksikan nilai ekonomi kawasan pertanian di Papua Selatan yang saat ini diperkirakan mencapai Rp1,3 triliun dapat meningkat hingga sekitar Rp13 triliun per tahun apabila produktivitas mencapai 7 ton per hektare dan pola tanam meningkat menjadi tiga kali dalam setahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *