27/04/2026
Foto 6

budidaya lele yang dikelola koperasi warga kini menjadi tulang punggung suplai protein untuk dapur MBG sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.

Blora, Batas.id — Program penyediaan makanan bergizi tidak hanya berdampak pada peningkatan asupan nutrisi, tetapi juga mendorong tumbuhnya sistem pasok pangan berbasis komunitas. Di Kelurahan Punden, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, budidaya lele yang dikelola koperasi warga kini berperan penting sebagai sumber protein sekaligus penggerak ekonomi lokal.

Kegiatan budidaya ini dijalankan oleh Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Punden dengan dukungan fasilitas berupa puluhan kolam, puluhan ribu benih, serta perlengkapan pendukung lainnya. Produksi lele yang dihasilkan mulai diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dapur layanan pemenuhan gizi di wilayah sekitar.

Kolam Biofolks digunakan untuk budidaya ikan lele dan didistribusikan ke MBG.

Pengelola budidaya, Akhlis Nurfuad, menjelaskan bahwa hasil panen dilakukan secara bertahap. Dalam satu periode panen, produksi dapat mencapai dua hingga tiga kuintal, bahkan bisa lebih tergantung kondisi. Panen dilakukan berkala untuk menjaga ketersediaan pasokan.

Menurutnya, kebutuhan dapur gizi umumnya dihitung dalam jumlah ekor, dengan permintaan minimal sekitar 2.500 ekor atau setara dengan 2,5 hingga 3 kuintal per pengiriman. Selain membantu pemenuhan kebutuhan nutrisi, kegiatan ini juga memberikan tambahan penghasilan bagi para pembudidaya.

Sementara itu, Ketua KKMP Punden, Rohmah Yuli Fridayanti, menyebutkan bahwa kapasitas produksi masih terus ditingkatkan. Saat ini, hasil panen sebagian masih dijual melalui pengepul karena jumlahnya belum stabil untuk memenuhi kebutuhan dapur gizi secara langsung.

Ia optimistis pada panen berikutnya produksi akan meningkat sehingga dapat memasok langsung ke dapur gizi terdekat. Upaya komunikasi dengan pihak terkait juga sudah dilakukan untuk memastikan distribusi berjalan lancar.

Di sisi lain, Lurah Punden, Fikri Hidayat, menyampaikan bahwa produksi kini mulai berjalan rutin dengan panen harian berkisar antara 70 hingga 150 kilogram. Meski masih disalurkan melalui perantara, hasil budidaya ini telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Selain berdampak pada peningkatan ekonomi warga, ketersediaan sumber protein ini juga membantu pemenuhan kebutuhan gizi kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Hal ini dinilai berkontribusi dalam upaya menekan angka stunting di wilayah tersebut.

Inisiatif ini memperlihatkan bahwa program pangan tidak hanya berhenti pada distribusi, tetapi juga mampu menggerakkan produksi lokal. Keterlibatan koperasi dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun kemandirian rantai pasok sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *