15/08/2026
Peremsian Molis

Bekasi, Batas.id — Presiden RI Prabowo Subianto menargetkan ekosistem kendaraan listrik nasional, khususnya mobil listrik, dapat memasuki tahap produksi massal paling lambat pada 2028. Target tersebut disampaikan setelah pemerintah meluncurkan Motor Listrik Nasional (Molinas) beserta ekosistem pendukungnya di Bekasi, Jawa Barat.

Prabowo optimistis pengembangan industri kendaraan listrik dalam negeri akan terus mengalami kemajuan. Menurutnya, Indonesia perlu mempercepat penggunaan kendaraan berbasis listrik sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) impor.

“Kita lagi bangun mobil listrik Indonesia, yang kita berharap paling lambat tahun 2028 sudah produksi besar-besaran,” ujar Prabowo saat peluncuran Molinas di Bekasi, Kamis (13/8).

Presiden menilai penggunaan motor dan mobil listrik secara luas dapat menekan kebutuhan impor BBM. Dengan begitu, devisa yang selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi dari luar negeri dapat dikurangi dan dialihkan untuk memperkuat perekonomian nasional.

Prabowo menyebut pengeluaran Indonesia untuk impor BBM dapat mencapai sekitar US$28 miliar hingga US$30 miliar. Karena itu, pemerintah mendorong penggunaan listrik sebagai sumber energi utama untuk berbagai kebutuhan.

“Dengan sebanyak mungkin alat-alat kita menggunakan listrik sebagai energi utama, kita akan lebih aman, kita akan lebih sejahtera,” katanya.

Selain mendorong kendaraan listrik, pemerintah juga menjalankan strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar melalui kebijakan biodiesel B50. Program tersebut mewajibkan pencampuran biodiesel sebesar 50 persen ke dalam solar.

Prabowo mengatakan penerapan B50 diharapkan mampu semakin menekan kebutuhan impor diesel dari luar negeri.

“Kita bertekad ini kita kurang. Dengan solar sekarang B50 kita sudah mengurangi, bahkan harusnya kita tidak impor lagi diesel dari luar,” ujarnya.

Pemerintah juga menyiapkan langkah transisi penggunaan energi untuk sektor rumah tangga. Salah satunya dengan mendorong peralihan dari penggunaan LPG menuju compressed natural gas (CNG), yang dinilai dapat membantu mengurangi ketergantungan impor sekaligus menekan beban subsidi.

Di sektor kelistrikan, pemerintah turut menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan total kapasitas mencapai 100 gigawatt (GW). Pembangunan tersebut ditargetkan rampung dalam kurun waktu empat tahun.

“Kita juga akan membangun listrik dari tenaga surya sebesar 100 gigawatt, dan ini harus kita laksanakan dalam empat tahun,” kata Prabowo.

Berbagai kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional, mengurangi impor energi, serta mempercepat penggunaan sumber energi yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *