Gambar Ilustrasi Karhutla Riau 2025
Riau, Batas.id — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius di Provinsi Riau seiring meningkatnya intensitas musim kemarau. Sejumlah titik kebakaran dilaporkan masih aktif di Kabupaten Bengkalis dan Rokan Hilir, sehingga memaksa tim gabungan terus melakukan upaya pemadaman untuk mencegah meluasnya area terdampak. Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera menjadi garda terdepan dalam operasi penanganan kebakaran yang berlangsung selama beberapa hari terakhir.
Di Kabupaten Bengkalis, kebakaran terjadi di wilayah Tanjung Kapal, Pulau Rupat. Asap pekat masih terlihat membumbung dari lokasi kebakaran, sementara kondisi angin kencang mempercepat penyebaran api ke area sekitar. Untuk mengendalikan situasi, Manggala Agni mengerahkan personel dari berbagai daerah operasi di Sumatera. Upaya pemadaman juga diperkuat dengan dukungan helikopter water bombing, alat berat ekskavator, serta bantuan dari BPBD, TNI, Polri, dan unsur perusahaan setempat.
Sementara itu, di Kabupaten Rokan Hilir, tim pemadam menghadapi tantangan yang tidak kalah berat. Kebakaran terdeteksi di wilayah Rantau Bais dan Sungai Besar. Proses pendinginan masih terus dilakukan pada area yang telah berhasil dikendalikan, sedangkan di titik api aktif petugas berupaya membuat sekat bakar dan memadamkan kepala api. Kendala utama yang dihadapi adalah terbatasnya sumber air di sekitar lokasi kebakaran, sehingga proses pemadaman memerlukan waktu dan tenaga lebih besar.
Karhutla bukanlah persoalan baru bagi Riau. Sebelumnya, kebakaran lahan juga terjadi di Kabupaten Siak dengan estimasi luas area terdampak mencapai sekitar 20 hektare. Kondisi cuaca panas dan semakin berkurangnya sumber air menjadi faktor yang memperumit upaya pengendalian api. Sebagian besar kebakaran bahkan terjadi di lahan gambut yang dikenal sulit dipadamkan karena api dapat merambat di bawah permukaan tanah.
Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan terus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman karhutla sepanjang tahun 2026. Selain pemadaman, patroli pencegahan diperkuat untuk mendeteksi titik panas sejak dini dan mempercepat respons lapangan. Langkah ini dinilai penting mengingat Riau termasuk salah satu wilayah paling rawan karhutla di Sumatera. Kolaborasi antara pemerintah, aparat keamanan, perusahaan, dan masyarakat menjadi kunci untuk mencegah kebakaran semakin meluas serta meminimalkan dampak lingkungan, kesehatan, dan ekonomi yang ditimbulkannya.
