15/04/2026
Airlangga hartanto

Source Foto: https://prabowosubianto.com/airlangga-indonesias-economy-remains-resilient-amidst-global-turmoil-far-different-from-1998/

Jakarta, Batas.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini berada dalam posisi yang kuat meski dihadapkan pada ketidakpastian global. Situasi ini dinilai jauh berbeda dibandingkan krisis yang terjadi pada 1998.

Di tingkat global, Indonesia menunjukkan performa yang cukup baik. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,11 persen, menjadikannya salah satu yang tertinggi di kelompok G20, hanya berada di bawah India. Sementara itu, defisit anggaran Indonesia tetap terjaga di bawah 3 persen, lebih rendah dibandingkan sejumlah negara seperti India, Prancis, dan Amerika Serikat.

Proyeksi dari International Monetary Fund dan World Bank memperkirakan ekonomi global tumbuh di kisaran 2,6 hingga 3,3 persen. Di sisi lain, Indonesia diproyeksikan mampu mencatat pertumbuhan sekitar 5,3 persen pada tahun ini. Bahkan, pemerintah optimistis pertumbuhan pada kuartal I 2026 dapat mencapai 5,5 persen.

Mengacu pada laporan Bloomberg, risiko resesi Indonesia tergolong rendah, yakni sekitar 5 persen. Angka tersebut lebih kecil dibandingkan sejumlah negara lain seperti Brasil, China, Jepang, hingga Amerika Serikat.

Airlangga menjelaskan bahwa kekuatan ekonomi domestik menjadi faktor utama penopang stabilitas, dengan kontribusi sekitar 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Ketahanan ini juga didukung oleh sektor pangan dan energi.

Di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia disebut telah mencapai swasembada beras sejak 2025. Produksi beras tercatat mencapai 34,7 juta ton dengan cadangan Bulog sebesar 4,6 juta ton per April 2026, tertinggi sepanjang sejarah.

Dalam sektor energi, pemerintah terus mendorong kebijakan seperti implementasi B50, pengembangan energi surya, serta peningkatan kapasitas kilang minyak guna memperkuat kemandirian energi.

Peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga dinilai efektif sebagai penyangga ekonomi, terutama melalui penyaluran bantuan sosial kepada masyarakat. Hingga Maret 2026, penerimaan pajak mencapai Rp462,7 triliun atau tumbuh 14,3 persen secara tahunan, dengan defisit tetap terkendali.

Cadangan devisa Indonesia berada di kisaran USD148,2 miliar, setara dengan pembiayaan enam bulan impor. Di sisi sosial, tingkat kemiskinan menurun menjadi 8,25 persen, kesenjangan turun ke level 0,363, dan tingkat pengangguran berhasil ditekan menjadi 4,7 persen.

Sementara itu, rasio utang pemerintah tercatat sebesar 40,46 persen terhadap PDB atau sekitar Rp9.637,9 triliun. Mayoritas utang berasal dari dalam negeri, dengan kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara hanya 12,6 persen, sehingga risiko dari tekanan eksternal dinilai relatif rendah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *