Rupiah menyentuh level Rp18.000 per dolar AS. Simak penyebab pelemahan rupiah, faktor global yang memengaruhi, serta dampaknya terhadap ekonomi Indonesia.
Jakarta, Batas.id – Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah dolar Amerika Serikat (AS) menyentuh level psikologis Rp18.000 pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Berdasarkan sejumlah data pasar dan laporan media, kurs dolar AS bahkan sempat bergerak di kisaran Rp18.001 hingga Rp18.010 per dolar AS, menandai salah satu titik terlemah rupiah dalam sejarah.
Pelemahan rupiah terjadi setelah mata uang Garuda terus mengalami tekanan dalam beberapa pekan terakhir. Pada penutupan perdagangan Rabu (3/6/2026), rupiah tercatat berada di level Rp17.966 per dolar AS atau melemah sekitar 0,71 persen dibandingkan hari sebelumnya. Sejumlah analis menilai pelemahan ini dipicu kombinasi faktor global dan domestik.
Dari sisi global, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, tingginya suku bunga acuan Amerika Serikat, serta menguatnya dolar AS menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Selain itu, kenaikan harga minyak dunia turut memperburuk sentimen pasar karena berpotensi meningkatkan beban impor energi nasional.
Sementara itu, dari dalam negeri, pasar juga mencermati isu terkait fiskal, arus keluar modal asing, hingga kekhawatiran investor terhadap transparansi pasar keuangan Indonesia. Beberapa lembaga internasional bahkan telah merevisi proyeksi nilai tukar rupiah hingga berpotensi berada di atas Rp18.000 per dolar AS pada akhir tahun 2026.
Merespons kondisi tersebut, Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menjaga stabilitas nilai tukar. BI juga memperketat aturan pembelian dolar AS dan memperkuat koordinasi dengan pemerintah serta pelaku industri keuangan untuk meredam gejolak pasar.
Pelemahan rupiah hingga menyentuh level Rp18.000 diperkirakan akan memberikan dampak luas terhadap perekonomian. Sektor yang bergantung pada impor bahan baku berpotensi menghadapi kenaikan biaya produksi. Harga barang impor, termasuk elektronik dan komoditas tertentu, juga berisiko meningkat. Di sisi lain, pelemahan rupiah dapat memberikan keuntungan bagi eksportir karena pendapatan dalam dolar AS menjadi lebih tinggi ketika dikonversi ke rupiah.
Meski demikian, pemerintah dan Bank Indonesia meyakini fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi tekanan global. Tantangan terbesar saat ini adalah menjaga kepercayaan investor dan memastikan stabilitas pasar keuangan tetap terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi dunia yang masih berlangsung.
