Source: Reuters SOCMED Informasi awal mengenai gempa M4,4 telah diperbarui. Berdasarkan analisis USGS yang dikutip Reuters dan Guardian, peristiwa tersebut kemudian diidentifikasi sebagai longsoran, sehingga sebaiknya artikel tidak lagi menyebut gempa sebagai penyebab pasti.
Nepal, Batas.id — Banjir bandang dahsyat menerjang kawasan perbatasan Nepal dan Tibet, China, pada Rabu (26/8/2026), setelah longsoran es dan batuan dari kawasan Himalaya memicu gelombang air bah serta lumpur dalam jumlah besar. Bencana tersebut menyapu permukiman, jalan, jembatan, fasilitas pembangkit listrik hingga kawasan Gyirong Port di Tibet. Rekaman CCTV memperlihatkan material lumpur dan batu menerjang bangunan di kawasan perbatasan dalam hitungan detik.
Hingga Kamis (27/8), sedikitnya 160 orang dilaporkan meninggal dunia di Nepal dan Tibet, sementara ratusan lainnya masih belum ditemukan. Di Nepal, polisi melaporkan sedikitnya 157 korban meninggal, sedangkan otoritas China melaporkan tiga korban tewas dan ratusan orang hilang di wilayah Gyirong. Sejumlah warga negara asing, termasuk dari India, Amerika Serikat, Australia, Inggris, Kanada, dan Korea Selatan, juga dilaporkan belum ditemukan.
Tim penyelamat dari kepolisian dan militer dikerahkan untuk mencari korban di sejumlah wilayah terdampak. Proses evakuasi menghadapi kendala akibat kerusakan infrastruktur, aliran air yang masih tinggi, gangguan listrik serta material lumpur yang menutup akses. Perserikatan Bangsa-Bangsa juga mulai memobilisasi bantuan dan personel untuk mendukung penanganan bencana.
Awalnya bencana ini dikaitkan dengan gempa bermagnitudo 4,4, tetapi analisis terbaru US Geological Survey (USGS) menyatakan energi seismik yang terdeteksi kemungkinan berasal dari longsoran, bukan gempa bumi. Para ahli menduga runtuhnya massa es dan batuan dari gletser menyebabkan aliran sungai tersumbat sebelum menghasilkan gelombang banjir besar ke wilayah hilir.
