Source: YT/PLN
Jakarta, Batas.id — Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari mengatakan program elektrifikasi untuk 10.068 lokasi di Indonesia membutuhkan anggaran sekitar Rp61,65 triliun. Pembiayaan program tersebut direncanakan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara bertahap selama periode 2025-2029.
Qodari menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers di Kantor Bakom RI, Rabu (16/9/2026). Menurutnya, program elektrifikasi tersebut ditujukan untuk sekitar 770.000 rumah tangga yang tersebar di 36 provinsi.
“Total kebutuhan biaya untuk mengalirkan listrik ke 10.068 lokasi ini diperkirakan mencapai Rp61,65 triliun. Seluruh pembiayaan program direncanakan bersumber dari APBN yang dialokasikan secara bertahap mulai dari 2025-2029,” ujar Qodari.
Menurut Qodari, akses listrik tidak hanya memberikan penerangan bagi masyarakat, tetapi juga dapat mengurangi ketergantungan rumah tangga terhadap sumber energi seperti minyak tanah dan kayu bakar.
Dengan tersedianya listrik, pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan bahan bakar tersebut diharapkan dapat berkurang. Listrik juga memungkinkan masyarakat menjalankan berbagai aktivitas rumah tangga dan ekonomi dalam waktu yang lebih panjang.
“Manfaat elektrifikasi tidak hanya berupa tersedianya penerangan, tetapi juga membuka peluang peningkatan pendapatan rumah tangga,” kata Qodari.
Program tersebut juga memberikan manfaat bagi berbagai fasilitas publik, mulai dari sekolah, fasilitas kesehatan, tempat ibadah, fasilitas ekonomi hingga sarana komunikasi.
Qodari menjelaskan, keberadaan listrik dapat mendukung peningkatan kualitas pelayanan pendidikan dan kesehatan. Selain itu, aktivitas masyarakat di tempat ibadah maupun kegiatan usaha dapat berlangsung lebih optimal.
Dampak Ekonomi Mulai Dirasakan Masyarakat
Qodari mencontohkan dampak program elektrifikasi yang mulai dirasakan masyarakat di Menembuke, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sejumlah pemilik warung kelontong di wilayah tersebut disebut mengalami peningkatan pendapatan setelah memperoleh akses listrik. Sebelumnya, pendapatan warung mereka berada di kisaran Rp300.000 per bulan.
Setelah mendapatkan listrik, para pemilik warung mulai mengembangkan usaha den
