Menteri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, secara resmi menyatakan bahwa ekonomi Indonesia saat ini sedang berada dalam "mode bertahan" (survival mode). Istilah ini merujuk pada pergeseran strategi kebijakan dari yang semula bersifat rutin (business as usual) menjadi lebih waspada dan agresif guna menghadapi tantangan ekonomi global yang berat.
Jakarta, Batas.id – Pemerintah Indonesia mengakui bahwa kondisi ekonomi nasional saat ini berada dalam fase “mode bertahan” atau survival mode di tengah meningkatnya tekanan global. Menteri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa pemerintah tidak lagi dapat menjalankan kebijakan dengan pola business as usual dan harus mengambil langkah yang lebih waspada, disiplin, serta agresif dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Pernyataan tersebut muncul di tengah ketidakpastian ekonomi dunia yang masih dibayangi konflik geopolitik, terutama ketegangan di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi global dan meningkatkan risiko inflasi di banyak negara, termasuk Indonesia.
Menurut Purbaya, kondisi global saat ini menuntut pemerintah untuk memperketat pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia menekankan bahwa tidak boleh ada kesalahan dalam tata kelola fiskal maupun pelaksanaan program prioritas nasional.
“Tidak ada ruang untuk error dalam pengelolaan pajak maupun penggunaan anggaran negara. Semua harus tepat sasaran agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga,” ujarnya.
Meski menghadapi tekanan berat, pemerintah mengklaim pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 masih cukup solid di angka 5,61 persen. Angka tersebut dinilai menunjukkan ketahanan ekonomi domestik yang masih mampu menopang aktivitas nasional di tengah perlambatan global.
Pemerintah juga menegaskan fokus utama saat ini adalah menjaga stabilitas fiskal dan mempertahankan daya beli masyarakat. Konsumsi domestik dinilai tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional sehingga berbagai program bantuan sosial, subsidi, dan stimulus konsumsi akan tetap dijaga efektivitasnya.
Selain itu, optimalisasi sumber daya negara dilakukan untuk menutup potensi kebocoran anggaran akibat meningkatnya beban utang dan risiko pelebaran defisit fiskal. Pemerintah disebut tengah melakukan efisiensi belanja di berbagai sektor agar APBN tetap sehat dan kredibel di mata investor.
Namun demikian, pernyataan mengenai “mode bertahan” memunculkan beragam respons dari publik dan pelaku pasar. Sebagian pihak menilai terdapat kontradiksi antara narasi optimisme pemerintah mengenai kondisi ekonomi nasional dengan pernyataan yang menggambarkan situasi darurat fiskal.
Beberapa pengamat menilai istilah survival mode bisa menjadi bentuk pengkondisian publik terhadap kemungkinan kebijakan ekonomi yang lebih ketat di masa mendatang, termasuk efisiensi anggaran dan penyesuaian belanja negara.
Di sisi lain, sejumlah investor masih melihat fundamental ekonomi Indonesia relatif kuat. Stabilitas sektor perbankan, konsumsi domestik yang tinggi, serta pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih positif menjadi indikator bahwa kepercayaan pasar belum sepenuhnya melemah.
Pemerintah menegaskan bahwa strategi “mode bertahan” bukan berarti ekonomi Indonesia berada dalam krisis, melainkan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas nasional di tengah situasi global yang tidak menentu.
