Jakarta, Batas.id — Pemerintah meningkatkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan menyusul munculnya titik api serta penurunan kualitas udara. Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menyatakan penanganan dilakukan secara terpadu melalui operasi darat dan udara.
Deputi Bidang Penegakan Hukum Lingkungan Hidup KLH/BPLH, Rizal Irawan, mengatakan puluhan helikopter dan pesawat dikerahkan untuk mendukung upaya water bombing dan modifikasi cuaca. Sementara itu, ribuan personel gabungan disiagakan selama 24 jam di sejumlah wilayah yang dinilai rawan karhutla.
Pemerintah juga memperkuat pemantauan terhadap pergerakan asap untuk mengantisipasi dampak yang meluas hingga negara-negara tetangga. Pemantauan dilakukan dengan melihat arah angin dan trajektori asap berdasarkan data dan peta dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Upaya tersebut merupakan bagian dari tindak lanjut pembahasan mengenai transboundary haze pollution bersama negara-negara di kawasan dalam ministerial meeting dan technical working group yang berlangsung di Bali pada Juli 2026.
Rizal menegaskan, penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman di lokasi kebakaran. Pemerintah juga berupaya memastikan potensi penyebaran asap lintas batas dapat dideteksi dan dicegah sedini mungkin melalui koordinasi regional.
Dengan menggabungkan operasi pemadaman di lapangan dan pemantauan pergerakan asap, pemerintah berharap dampak karhutla terhadap kualitas udara, kesehatan masyarakat, lingkungan, serta negara-negara di kawasan dapat diminimalkan.
