25/08/2026
Lokasi Gempa

Kondisi kerusakan rumah yang terdampak gempa M 7,7 Flores di Desa Peoza Karamba, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Kamis (21/8). Sumber: BNPB

Maumere, Batas.id — Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mempercepat pendataan dan verifikasi rumah warga yang mengalami kerusakan akibat gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu pekan lalu.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa proses pendataan dilakukan secara bersamaan dengan penanganan fase tanggap darurat. Langkah ini dilakukan agar kebutuhan masyarakat terdampak dapat segera diketahui dan menjadi dasar untuk menentukan penanganan selanjutnya.

Menurut Berton, data kerusakan rumah juga diperlukan untuk menentukan kebutuhan tenaga enumerator yang akan melakukan verifikasi dan validasi di lapangan. Khusus rumah yang mengalami kerusakan berat, data tersebut menjadi salah satu acuan untuk menghitung kebutuhan hunian sementara (huntara) maupun dukungan dana tunggu hunian (DTH).

BNPB mempercepat pendataan dan verifikasi 53.971 rumah rusak akibat gempa magnitudo 7,7 di NTT untuk mendukung penanganan dan pemulihan.

BNPB telah mengerahkan tim untuk melakukan pendataan awal di tujuh kabupaten terdampak. Berdasarkan data sementara hingga Sabtu (22/8), tercatat 53.971 unit rumah mengalami kerusakan.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 19.006 rumah masuk kategori rusak berat, 11.777 rusak sedang, dan 23.188 rusak ringan.

Rincian kerusakan rumah di tujuh kabupaten terdampak yakni:

  • Nagekeo: 4.829 rumah, terdiri dari 1.702 rusak berat, 560 rusak sedang, dan 2.567 rusak ringan.
  • Ende: 3.953 rumah, terdiri dari 763 rusak berat, 870 rusak sedang, dan 2.320 rusak ringan.
  • Manggarai: 7.045 rumah, terdiri dari 3.582 rusak berat, 2.113 rusak sedang, dan 1.350 rusak ringan.
  • Manggarai Timur: 17.039 rumah, terdiri dari 6.713 rusak berat, 4.496 rusak sedang, dan 5.830 rusak ringan.
  • Manggarai Barat: 9.402 rumah, terdiri dari 3.334 rusak berat, 1.438 rusak sedang, dan 4.630 rusak ringan.
  • Ngada: 8.129 rumah, terdiri dari 1.973 rusak berat, 1.678 rusak sedang, dan 4.478 rusak ringan.
  • Sikka: 3.574 rumah, terdiri dari 939 rusak berat, 622 rusak sedang, dan 2.013 rusak ringan.

BNPB menegaskan bahwa angka tersebut masih bersifat sementara dan harus melalui proses verifikasi serta validasi. Tahapan tersebut diperlukan untuk memastikan data yang dihimpun sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Selain itu, BNPB telah memperoleh data sementara by name by address (BNBA) hingga tingkat desa di Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka. Sementara untuk Kabupaten Manggarai, proses input data masih berlangsung dan ditargetkan selesai dalam satu hingga dua hari.

Di Kabupaten Nagekeo, proses verifikasi telah berjalan selama dua hari dengan melibatkan pemerintah daerah dan menggunakan instrumen pendataan yang ditetapkan BNPB.

Data yang telah melalui proses verifikasi dan dinyatakan valid selanjutnya dapat ditetapkan melalui keputusan kepala daerah. Namun, apabila hasil sampling BNPB menunjukkan adanya ketidaksesuaian, pemerintah akan melakukan verifikasi ulang untuk memastikan akurasi data.

BNPB bersama pemerintah daerah terus memperkuat koordinasi dalam proses pendataan tersebut. Meski demikian, Berton menegaskan bahwa penanganan darurat tetap menjadi prioritas utama, khususnya untuk memastikan keselamatan serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak.

Pendataan kerusakan dilakukan secara simultan sebagai bagian dari persiapan menuju tahap pemulihan. Dengan data yang akurat dan terverifikasi, pemerintah diharapkan dapat menyalurkan dukungan secara lebih cepat, tepat sasaran, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *