21/08/2026
ChatGPT Image 21 Agu 2026, 13.02.42

Source: X

Kalimantan, Batas.id — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di Kalimantan. Di tengah musim kemarau dan kondisi cuaca yang meningkatkan risiko kebakaran, pemantauan terbaru menunjukkan ribuan titik panas tersebar di sejumlah wilayah di Pulau Kalimantan.

Berdasarkan pemantauan Satelit NOAA-20 hingga 20 Agustus 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 1.487 titik panas di Kalimantan. Konsentrasi tertinggi berada di Kalimantan Tengah sebanyak 767 titik, disusul Kalimantan Barat 560 titik. Sementara itu, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing mencatat 74 titik, sedangkan Kalimantan Utara tiga titik.

Source: IG BNPB

Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat Jadi Wilayah dengan Hotspot Terbanyak

Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah titik panas tertinggi. Kondisi tersebut membuat provinsi ini menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian serius dalam penanganan karhutla.

Kalimantan Barat juga menghadapi persoalan serupa. Sebelumnya, pemerintah telah memperkuat operasi pemadaman di sejumlah wilayah Kalbar, termasuk menggunakan helikopter untuk melakukan water bombing. Kondisi lahan gambut menjadi salah satu tantangan dalam proses pemadaman karena api dapat bertahan dan kembali muncul di bawah permukaan.

Pemerintah bahkan telah mengantisipasi peningkatan risiko karhutla pada periode Agustus hingga September 2026. BNPB menyebut risiko tinggi terutama berada di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan, termasuk Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

BNPB Melakukan Water Bombing untuk pemadaman Lahan. Source: IG BNPB

Kemarau Memperbesar Risiko Kebakaran

Musim kemarau menjadi salah satu faktor yang meningkatkan potensi terjadinya karhutla. BNPB mencatat sejumlah kejadian kebakaran di Kalimantan sepanjang Agustus, termasuk di Kutai Kartanegara dan sejumlah wilayah lainnya.

Dalam koordinasi penanganan karhutla, pemerintah juga menyoroti potensi pergerakan asap lintas batas. BNPB mencatat asap dari wilayah Indonesia sempat terpantau bergerak menuju Malaysia yang berbatasan dengan Kalimantan Barat. Kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah juga masuk kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

Fenomena El Nino turut menjadi faktor yang perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan kondisi kering dan memperbesar risiko kebakaran. Namun, besarnya dampak karhutla juga dipengaruhi kondisi lahan, terutama kawasan gambut, serta faktor aktivitas manusia.

Kabut Asap Mulai Berdampak pada Aktivitas Warga

Meningkatnya aktivitas kebakaran berpotensi menimbulkan persoalan baru, terutama terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat.

Kabut asap dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, termasuk pendidikan dan transportasi. Sejumlah laporan pada 20 Agustus 2026 juga menyebut kondisi kabut asap di Kalimantan Tengah mulai berdampak pada aktivitas masyarakat, dengan kualitas udara di Palangka Raya dilaporkan mencapai kategori berbahaya.

Dampak karhutla juga tidak berhenti pada wilayah yang terbakar. Asap dapat menyebar ke daerah lain dan, dalam kondisi tertentu, berpotensi melintasi batas negara.

Pemerintah Perkuat Pemadaman dan Pencegahan

Pemerintah telah memperkuat penanganan karhutla melalui operasi darat dan udara. BNPB bersama pemerintah daerah mengerahkan personel untuk melakukan pemadaman, pemantauan titik panas, serta dukungan water bombing di wilayah yang membutuhkan.

Di Kalimantan Tengah, pemerintah daerah juga meminta tambahan armada helikopter water bombing untuk mempercepat proses pemadaman. Pemantauan titik panas dilakukan secara intensif untuk mencegah api meluas.

Selain pemadaman, pemerintah menekankan pentingnya pencegahan. BNPB meminta pemerintah daerah memperkuat patroli, deteksi dini, kesiapan personel dan sarana pemadam, sekaligus mencegah pembukaan lahan dengan cara membakar.

Karhutla Kalimantan Perlu Ditangani Sejak Dini

Sebaran 1.487 titik panas menunjukkan bahwa risiko karhutla di Kalimantan masih tinggi. Kondisi ini perlu ditangani melalui kombinasi pemantauan dini, pemadaman cepat, pencegahan pembakaran lahan dan koordinasi lintas sektor.

Terlebih, BNPB memperkirakan risiko karhutla masih tinggi hingga periode Agustus–September 2026. Karena itu, penanganan tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah membesar, tetapi perlu diperkuat sejak munculnya titik panas agar kebakaran tidak berkembang menjadi bencana yang lebih luas.

Catatan: angka 1.487 titik panas, dengan rincian Kalimantan Tengah 767, Kalimantan Barat 560, Kalimantan Selatan 74, Kalimantan Timur 74, dan Kalimantan Utara 3, terverifikasi dari laporan media yang mengutip keterangan BNPB pada 20 Agustus 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *