Jakarta, Batas.id — Gunung Semeru di Jawa Timur kembali mengalami erupsi dengan intensitas tinggi pada Sabtu (4/4/2026) pagi. Hingga pukul 06.22 WIB, tercatat setidaknya sembilan kali letusan terjadi dari gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut.

Erupsi tersebut memuntahkan kolom abu vulkanik dengan ketinggian berkisar antara 700 hingga 1.000 meter di atas puncak. Arah sebaran abu terpantau mengarah ke sektor selatan hingga barat daya.

Aktivitas vulkanik yang masih tinggi membuat status Gunung Semeru saat ini berada pada Level III atau Siaga.

Erupsi Berulang dengan Kolom Abu hingga 1.000 Meter

Berdasarkan laporan pengamatan, salah satu letusan terbesar terjadi pada pukul 05.19 WIB dengan tinggi kolom abu mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak kawah.

Erupsi berlangsung secara berulang dalam rentang waktu singkat, menunjukkan aktivitas vulkanik yang masih fluktuatif dan didominasi gempa letusan.

Kolom abu yang teramati berwarna kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal. Kondisi ini berpotensi memicu gangguan jarak pandang serta hujan abu di wilayah sekitar gunung.

Status Siaga, Aktivitas Vulkanik Masih Tinggi

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan status Gunung Semeru tetap berada pada Level III atau Siaga.

Status ini menandakan adanya peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan dan berpotensi menimbulkan bahaya dalam radius tertentu dari pusat erupsi.

Masyarakat diminta untuk tidak melakukan aktivitas di kawasan rawan bencana, terutama di sektor aliran lahar dan awan panas.

Warga Dilarang Dekati Besuk Kobokan

Sebagai langkah mitigasi, warga dan pengunjung dilarang beraktivitas dalam radius 13 kilometer dari pusat aktivitas erupsi, khususnya di sepanjang Besuk Kobokan.

Selain itu, masyarakat juga diminta untuk menjauhi area sejauh 500 meter dari sempadan sungai di sepanjang aliran Besuk Kobokan.

Wilayah tersebut menjadi jalur utama aliran awan panas guguran dan lahar yang berpotensi terjadi sewaktu-waktu.

Potensi Hujan Abu di Lumajang

Dampak dari aktivitas erupsi ini mulai dirasakan di sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.

Warga di kawasan tersebut berpotensi mengalami hujan abu vulkanik, terutama jika arah angin mengarah ke permukiman.

Abu vulkanik dapat mengganggu aktivitas sehari-hari serta berdampak pada kesehatan, khususnya sistem pernapasan.

Ancaman Awan Panas dan Banjir Lahar

Selain erupsi, bahaya lain yang perlu diwaspadai adalah potensi awan panas guguran yang dapat meluncur melalui jalur-jalur sungai dari puncak gunung.

Ancaman juga meningkat saat terjadi hujan di kawasan puncak, yang dapat memicu banjir lahar dingin membawa material vulkanik ke wilayah hilir.

Kondisi ini dapat membahayakan warga yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru.

Warga Diminta Pantau Informasi Resmi

Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada, serta selalu mengikuti perkembangan informasi dari instansi resmi seperti PVMBG dan BPBD setempat.

Informasi resmi dinilai penting untuk menghindari penyebaran kabar yang tidak akurat serta memastikan langkah mitigasi dilakukan secara tepat.

Erupsi Gunung Semeru yang terjadi berulang pada awal April 2026 menunjukkan aktivitas vulkanik yang masih tinggi. Dengan status Siaga Level III, masyarakat di sekitar kawasan rawan diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap potensi awan panas dan banjir lahar.

Kepatuhan terhadap rekomendasi keselamatan menjadi kunci untuk meminimalkan risiko akibat bencana vulkanik ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *